sekitarBANDUNGcom – Di hampir setiap sudut Kota Bandung, dari gerobak pinggir jalan hingga menu andalan di kafe kekinian, aroma khas kencur dan cabai dari semangkuk seblak seolah menjadi panggilan akrab yang sulit ditolak. Hidangan yang identik dengan kota ini telah melampaui batas geografisnya, berevolusi menjadi sebuah fenomena kuliner nasional yang dicintai berbagai kalangan.
Baca juga – 7 Tips Menu Usaha Kuliner Bandung yang Bikin Laris Manis
Fenomena Seblak: Dari Jajanan Lokal ke Primadona Nasional
Toppingnya yang semakin beragam, dari ceker ayam dan sosis hingga bakso aci dan aneka hidangan laut, seakan menegaskan statusnya sebagai kanvas kuliner yang tak terbatas. Namun, di balik popularitasnya yang meledak, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: dari mana sesungguhnya ide brilian untuk ‘merebus’ kerupuk ini berasal? Apakah gagasan ini benar-benar lahir begitu saja di tanah Pasundan pada era 2000-an?
Menelisik Jejak: Siapa Sangka Akarnya dari Jawa Tengah?
Jawabannya ternyata membawa kita menelusuri jejak waktu ke belakang, ke sebuah daerah dan hidangan sederhana yang namanya kini hampir terlupakan oleh gegap gempita sang ‘cucu’. Kisah yang diterima secara umum menyebutkan bahwa seblak modern lahir dari kreativitas masyarakat Bandung pada awal milenium baru. Narasi ini tidak sepenuhnya salah, namun kurang lengkap. Bandung adalah panggung di mana seblak dipoles dan dilambungkan namanya. Akan tetapi, jiwa dari konsepnya telah bersemayam jauh lebih lama di tempat lain.
Krupuk Godog: Sosok ‘Nenek Moyang’ yang Bersahaja
Jauh sebelum hiruk pikuk media sosial menjadikan seblak viral, di sebuah wilayah tenang di Jawa Tengah, tepatnya di daerah Sumpiuh, Banyumas, sebuah hidangan rakyat telah lebih dulu eksis. Namanya adalah Krupuk Godog, yang secara harfiah berarti “kerupuk rebus”. Inilah sosok yang diyakini sebagai ‘nenek moyang’ seblak.
Krupuk Godog lahir bukan dari tren, melainkan dari sebuah kearifan lokal yang luhur: menolak untuk membuang-buang makanan. Hidangan ini adalah cara masyarakat memanfaatkan kerupuk yang sudah melempem atau tidak renyah lagi. Daripada dibuang, kerupuk tersebut diolah kembali menjadi santapan baru yang hangat dan mengenyangkan. Dengan bumbu yang sangat bersahaja—umumnya hanya bawang putih, bawang merah, cabai, dan garam—Krupuk Godog adalah representasi sempurna dari kuliner yang lahir dari kesederhanaan.
Satu DNA, Beda Rasa: Evolusi Krupuk Godog Menjadi Seblak
Jika diibaratkan sebuah keluarga, Seblak dan Krupuk Godog memiliki hubungan darah yang sangat jelas. DNA utama keduanya identik: menggunakan kerupuk yang direbus hingga teksturnya menjadi kenyal. Filosofi di baliknya pun sama persis, yaitu sebuah solusi cerdas untuk ‘menyelamatkan’ bahan makanan.
Namun, seperti halnya cucu dan nenek moyang, terdapat perbedaan signifikan yang menandai evolusi. Perbedaan paling fundamental terletak pada bumbu kuncinya. Seblak modern memiliki kencur sebagai roh atau jiwanya. Aroma dan rasa khas dari kencur inilah yang memberikan identitas ke-Sunda-an yang begitu lekat pada seblak. Di sisi lain, Krupuk Godog yang otentik umumnya tidak menggunakan kencur, membuat profil rasanya lebih gurih sederhana.
Pentingnya bumbu segar sebagai identitas kuliner Sunda ini sejalan dengan pandangan sejarawan kuliner dari Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman. Menurutnya, karakter masakan Sunda memang sangat khas.
“Ciri khas masakan Sunda itu salah satunya adalah pemanfaatan bumbu-bumbu segar… seperti kencur, kunyit, jahe. Itu yang membuat masakan Sunda punya karakter yang kuat dan segar,” jelas Fadly, seperti dikutip dari Good News From Indonesia.
Evolusi selanjutnya terlihat pada tingkat kepedasan dan variasi topping. Krupuk Godog cenderung memiliki rasa pedas yang wajar, sementara seblak modern telah menjadi arena adu nyali dengan sistem ‘level pedas’ yang menantang. Selain itu, seblak telah mengalami ledakan kreativitas dalam hal isian, menjelma menjadi sebuah platform kuliner yang bisa dipadukan dengan apa saja. Inovasi inilah yang membuatnya terus relevan dan menarik bagi selera generasi masa kini.
Jadi, setiap kali kita menikmati semangkuk seblak pedas yang mengepul hangat, kita sebenarnya sedang mencicipi sebuah cerita panjang tentang kreativitas, kesederhanaan, dan perjalanan rasa lintas generasi. Kita sedang memberi hormat pada sebuah inovasi brilian yang berakar dari hidangan sederhana yang hampir terlupakan, membuktikan bahwa ide hebat sering kali datang dari tempat yang paling tak terduga.
Baca juga – FESTIVAL KULINER MUSIM PANAS TERBESAR DI BANDUNG: PERGIKULINER PICNIC SUMMER FESTIVAL DI PASKAL HYPER SQUARE

