Wakil Bupati Bandung Dukung Penyandang Thalasemia, BAZNAS Perkuat Sinergi Kemanusiaan

sekitarbandungcom – Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb menerima audiensi Relawan Donor Darah Thalasemia Indonesia (REDTI) Kabupaten Bandung pada Rabu, 30 September 2026. Pertemuan tersebut membahas

nathanael gihon

[addtoany]

Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb menerima audiensi Relawan Donor Darah Thalasemia Indonesia (REDTI) Kabupaten Bandung pada Rabu, 30 September 2026.

sekitarbandungcom – Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb menerima audiensi Relawan Donor Darah Thalasemia Indonesia (REDTI) Kabupaten Bandung pada Rabu, 30 September 2026.

Pertemuan tersebut membahas perhatian terhadap penyandang thalasemia, kebutuhan darah, serta pentingnya dukungan berkelanjutan bagi pasien dan keluarga.

Kegiatan itu turut dihadiri Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Bandung H. Abdul Rouf, serta perwakilan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kabupaten Bandung.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi dalam memberikan perhatian terhadap penyandang thalasemia.

Wakil Bupati Bandung Bahas Kebutuhan Penyandang Thalasemia

Wakil Bupati Bandung membahas sejumlah persoalan yang dihadapi pasien thalasemia. Salah satu perhatian utama adalah kebutuhan darah karena penyandang thalasemia harus menjalani transfusi secara rutin dalam jangka panjang.

Dalam audiensi, REDTI menyampaikan harapan agar penyandang thalasemia mendapat perhatian berkelanjutan dan dapat menjadi bagian dari program Pemerintah Kabupaten Bandung.

Harapan itu tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi keluarga.

Berdasarkan laporan Tema News, Ali Syakieb menerima audiensi REDTI Kita Sehati bersama relawan donor darah dan pemerhati thalasemia di kantor Wakil Bupati Bandung.

Pertemuan tersebut turut membahas upaya pencegahan dan deteksi dini thalasemia.

Ali menyampaikan bahwa persoalan thalasemia perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah.

Ia juga menyebut kebutuhan darah tidak hanya berkaitan dengan kegiatan donor, tetapi membutuhkan peralatan dan mekanisme pengelolaan yang memadai.

Selain pemenuhan kebutuhan darah, pencegahan dan deteksi dini menjadi perhatian dalam pembahasan. Ali menyebut thalasemia merupakan penyakit genetik dan bukan penyakit menular.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan dapat dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi potensi thalasemia lebih awal.

Baca juga: Pemkot Bandung Siapkan Skema Penanganan Banjir Menyeluruh, Anggaran Capai Rp800 Miliar

Wakil Bupati Bandung dan BAZNAS Perkuat Sinergi

BAZNAS Kabupaten Bandung menyampaikan dukungan kepada penyandang thalasemia beserta keluarganya.

Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Bandung H. Abdul Rouf menilai diperlukan kepedulian dan sinergi berbagai pihak untuk membantu meringankan tantangan yang dihadapi mereka.

Menurut BAZNAS Kabupaten Bandung, persoalan thalasemia tidak hanya berhubungan dengan layanan kesehatan.

Ada pula dimensi sosial dan kemanusiaan yang perlu diperhatikan, sehingga kolaborasi pemerintah, BAZNAS, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi penting.

Kehadiran Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kabupaten Bandung dalam kegiatan tersebut turut membuka ruang koordinasi lintas sektor.

Dukungan bersama diharapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penyandang thalasemia dan keluarganya.

Perhatian terhadap keluarga juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. BAZNAS mencatat pengobatan rutin dapat menimbulkan kebutuhan tambahan, antara lain transportasi, pendampingan, kebutuhan sehari-hari, serta dampak terhadap aktivitas dan kondisi ekonomi keluarga.

REDTI berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada kegiatan atau momentum tertentu. Organisasi tersebut mendorong agar penyandang thalasemia menjadi bagian dari perhatian dan program pemerintah secara berkelanjutan.

Melalui pertemuan tersebut, dukungan terhadap penyandang thalasemia diarahkan pada kebutuhan yang lebih luas. Penanganan tidak hanya menyentuh aspek pengobatan, tetapi juga pendampingan dan perhatian terhadap kondisi keluarga.

Pemerintah Kabupaten Bandung selanjutnya diharapkan dapat menindaklanjuti masukan yang disampaikan REDTI, terutama terkait kebutuhan darah, penguatan deteksi dini, dan peluang kolaborasi dengan BAZNAS.

Sinergi lintas pihak menjadi bagian penting dalam memberikan dukungan yang sesuai kebutuhan. Pemerintah daerah, BAZNAS, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai kewenangan dan kapasitas masing-masing.

Dengan koordinasi yang berkelanjutan, perhatian terhadap penyandang thalasemia di Kabupaten Bandung diharapkan tidak bersifat sementara.

Dukungan yang diberikan dapat mencakup kebutuhan kesehatan sekaligus aspek sosial dan ekonomi yang dirasakan pasien serta keluarganya.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memastikan penyandang thalasemia tetap memperoleh kesempatan untuk tumbuh, belajar, beraktivitas, dan menjalani kehidupan secara optimal.

Pembahasan pada 30 September 2026 menjadi salah satu ruang koordinasi untuk memperkuat perhatian tersebut.

Dukungan berkelanjutan juga diharapkan dapat membantu keluarga menghadapi kebutuhan pendampingan sehari-hari.

Kolaborasi tersebut menjadi penting agar informasi, layanan, dan perhatian kepada penyandang thalasemia dapat terus terhubung melalui koordinasi yang sesuai dengan kebutuhan di tingkat Kabupaten Bandung secara berkelanjutan setiap waktu.

Baca juga: Hary Tanoesoedibjo Laporkan Jusuf Hamka ke Polisi, Ini Awal Mula Sengketanya

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar