7 Artis yang Tidak Terima Karyanya Digunakan oleh Pemerintahan Donald Trump

Sekitarbandung.com – Sejumlah artis dunia seperti Sabrina Carpenter hingga Foo Fighters ramai-ramai memprotes penggunaan lagu dan karya mereka oleh pemerintahan Donald Trump tanpa izin. Karya-karya

Dicky Wicaksono

7 Artis yang Tidak Terima Karyanya Digunakan oleh Pemerintahan Donald Trump
7 Artis yang Tidak Terima Karyanya Digunakan oleh Pemerintahan Donald Trump

Sekitarbandung.com – Sejumlah artis dunia seperti Sabrina Carpenter hingga Foo Fighters ramai-ramai memprotes penggunaan lagu dan karya mereka oleh pemerintahan Donald Trump tanpa izin.

Karya-karya tersebut digunakan dalam berbagai konten yang berkaitan dengan narasi politik dan militer, sehingga memicu reaksi keras dari para kreatornya.

1. Sabrina Carpenter

Sabrina Carpenter memprotes penggunaan lagu “Juno” oleh U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) dalam video propaganda.

Ia menyebutnya “jahat dan menjijikkan” serta meminta agar lagunya tidak dipakai untuk konten seperti itu.

2. Kesha

Kesha marah karena lagu “Blow” digunakan dalam video bertema perang yang terkait dengan pemerintahan Donald Trump.

Ia menilai penggunaan tersebut meremehkan perang dan tidak manusiawi.

3. Ben Stiller

Ben Stiller mengecam penggunaan cuplikan film Tropic Thunder oleh White House untuk konten militer.

Ia menegaskan tidak pernah memberi izin dan menolak karyanya dijadikan alat propaganda.

4. Radiohead

Radiohead menuntut ICE untuk menghapus penggunaan lagu “Let Down”.

Mereka menilai karya tersebut tidak boleh digunakan sembarangan dan bereaksi keras terhadap pelanggaran tersebut.

Baca Juga: Mengapa Donald Trump Serang Venezuela Hingga Tangkap Nicolas Maduro? Simak Penjelasannya Berikut Ini!

5. SZA

SZA mengkritik penggunaan lagunya dalam video Gedung Putih.

Ia menilai hal itu sebagai strategi memancing reaksi artis demi promosi gratis dan menyebutnya sebagai “puncak kegelapan”.

6. Olivia Rodrigo

Olivia Rodrigo menolak keras lagunya dipakai ICE untuk promosi deportasi.

Ia menyebutnya sebagai propaganda rasis dan penuh kebencian.

7. Foo Fighters

Foo Fighters memprotes penggunaan lagu “My Hero” dalam acara politik Trump tanpa izin.

Mereka menegaskan tidak mengizinkan dan akan menyumbangkan royalti ke pihak lawan politik.

Bagi para artis, hal ini bukan sekadar persoalan hak cipta, tetapi juga menyangkut etika karena karya mereka dianggap digunakan untuk menyampaikan pesan yang tidak sejalan dengan nilai yang mereka pegang.

Respons yang muncul pun beragam, mulai dari kritik terbuka hingga permintaan penghapusan konten yang kemudian memicu perdebatan publik mengenai batas penggunaan karya seni dalam ranah politik.

Baca Juga: Patung Trump dan Jeffrey Epstein dengan Pose Mesra Mirip Film Titanic Muncul di Washington DC

Related Post

Tinggalkan komentar