Kisah 189 Penumpang Pesawat Lion Air yang Terjebak dalam Penerbangan Tragis 29 Oktober 2018

Sekitarbandung.com – Pada 29 Oktober 2018, Indonesia dikejutkan oleh salah satu tragedi penerbangan paling memilukan dalam sejarah aviasi nasional. Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan

Dicky Wicaksono

Kisah 189 Penumpang Pesawat Lion Air yang Terjebak dalam Penerbangan Tragis 29 Oktober 2018
Kisah 189 Penumpang Pesawat Lion Air yang Terjebak dalam Penerbangan Tragis 29 Oktober 2018

Sekitarbandung.com – Pada 29 Oktober 2018, Indonesia dikejutkan oleh salah satu tragedi penerbangan paling memilukan dalam sejarah aviasi nasional.

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 yang membawa 189 penumpang dan awak kabin dilaporkan jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, menuju Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.

Pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 tersebut lepas landas pada pagi hari dalam kondisi cuaca yang relatif normal.

Namun, hanya sekitar 13 menit setelah mengudara, pesawat kehilangan kontak dengan menara pengawas dan jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Seluruh penumpang dan awak di dalam pesawat dinyatakan meninggal dunia.

Belakangan diketahui, sebelum kecelakaan terjadi, pilot sempat melaporkan adanya gangguan teknis pada sistem kendali penerbangan.

Pesawat disebut mengalami masalah yang membuatnya sulit dikendalikan, meskipun upaya koreksi telah dilakukan oleh awak kokpit.

Baca Juga: Pesawat Tempur Dassault Rafale Segera Tiba, KSAU Tinjau Lanud Roesmin Nurjadin

Hasil investigasi panjang yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap bahwa kecelakaan tersebut berkaitan dengan sistem MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) pada Boeing 737 MAX.

Sistem ini secara otomatis menurunkan hidung pesawat berdasarkan data sensor, yang ternyata memberikan informasi keliru.

Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga mengguncang dunia penerbangan internasional.

Seluruh armada Boeing 737 MAX di berbagai negara sempat dilarang terbang sementara waktu demi evaluasi keselamatan.

Bagi keluarga korban, 29 Oktober 2018 menjadi tanggal yang tak pernah terlupakan. Harapan yang dibawa para penumpang dalam penerbangan tersebut berubah menjadi kehilangan yang mendalam, sekaligus pengingat pentingnya keselamatan sebagai prioritas utama dalam dunia transportasi udara.

Hingga kini, tragedi Lion Air JT 610 dikenang sebagai peristiwa yang membawa perubahan besar dalam regulasi dan pengawasan keselamatan penerbangan, baik di Indonesia maupun di tingkat global.

Baca Juga: Ridwan Kamil Debat Bandara Ngurah Rai: 5 Fakta Mengejutkan soal Pesawat Super Air Jet yang Batal Terbang

Related Post

Tinggalkan komentar