Sekitarbandung.com – Tragedi Santa Cruz yang terjadi pada 12 November 1991 di Dili, Timor Timur, menjadi salah satu peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia.
Penembakan massal terhadap demonstran di Kompleks Pemakaman Santa Cruz tidak hanya merenggut ratusan nyawa, tetapi juga membuka mata dunia internasional berkat rekaman video yang nyaris lenyap di tengah kekacauan.
Peristiwa berdarah itu bermula saat ribuan warga mengikuti prosesi pemakaman Sebastião Gomes yang berujung pada aksi demonstrasi damai.
Namun situasi berubah mencekam ketika aparat keamanan melepaskan tembakan ke arah massa. Dalam hitungan menit, area pemakaman berubah menjadi lautan kepanikan, jeritan, dan korban berjatuhan.
Di tengah situasi genting tersebut, seorang wartawan asing merekam langsung aksi kekerasan yang terjadi. Rekaman itu menjadi bukti visual penting yang menunjukkan penembakan terhadap warga sipil.
Namun, menyadari risiko besar jika rekaman tersebut ditemukan aparat, sang wartawan mengambil keputusan ekstrem demi menyelamatkan bukti.
Baca Juga: Tragedi Arie Hanggara, Bocah yang Tewas Akibat Penyiksaan Orang Tua di Menteng
Kaset video hasil liputan itu kemudian dikubur di tanah, disembunyikan di tengah kekacauan dan ketakutan.
Langkah tersebut dilakukan agar bukti kekerasan tidak dirampas atau dihancurkan, mengingat situasi saat itu sangat berbahaya bagi jurnalis yang meliput kejadian di Timor Timur.
Tragedi Santa Cruz tidak hanya menjadi simbol penderitaan rakyat sipil, tetapi juga menegaskan peran penting jurnalisme dalam mengungkap kebenaran.
Keberanian wartawan yang rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan bukti menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan keadilan dan hak asasi manusia di kawasan tersebut.
Baca Juga: Tragedi Gudang Petasan Kosambi, Ketika Tempat Mencari Uang Berubah Menjadi Kuburan Massal

