Sumbangkan 28 Kg untuk Monas, Teuku Markam Justru Dibalas dengan Penjara dan Fitnah Keji

Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak kenal Monas? Ikon Jakarta yang puncaknya dihiasi lidah api berlapis emas murni seberat 38 Kg pada masa awal pembangunannya. Namun

Dicky Wicaksono

Sumbangkan 28 Kg untuk Monas, Teuku Markam Justru Dibalas dengan Penjara dan Fitnah Keji
Sumbangkan 28 Kg untuk Monas, Teuku Markam Justru Dibalas dengan Penjara dan Fitnah Keji

Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak kenal Monas? Ikon Jakarta yang puncaknya dihiasi lidah api berlapis emas murni seberat 38 Kg pada masa awal pembangunannya.

Namun tahukah kamu? Dari total 38 Kg emas tersebut, sebanyak 28 Kg disumbangkan oleh satu orang saja. Lantas, siapa sosok superkaya yang berhati mulia itu?

Namanya Teuku Markam, seorang pengusaha asal Aceh yang sangat sukses dan dikenal memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Ia juga merupakan sahabat dekat Presiden Soekarno.

Saking cintanya kepada Indonesia, ketika Soekarno berkeinginan membangun Monas, Markam tanpa ragu menyumbangkan 28 Kg emas murni miliknya. Perlu diingat, nilai 28 Kg emas pada masa itu sangatlah luar biasa.

Pada era Orde Lama, Markam dikenal sebagai “crazy rich” yang sesungguhnya. Perusahaannya, PT Karkam, menguasai sektor ekspor-impor dan turut membiayai berbagai proyek negara.

Ia hidup mewah, dihormati, dan bahkan dianggap sebagai aset bangsa. Namun roda nasib berputar kejam ketika tahun 1965 tiba.

Saat kekuasaan Soekarno runtuh dan Orde Baru berkuasa, kedekatan Markam dengan Soekarno justru menjadi petaka. Ia dituduh sebagai koruptor dan antek PKI.

Baca Juga: Punya Tato Auto Mati? Masa Kelam Pria Bertato Akibat Operasi Petrus (Penembakan Misterius)

Tuduhan tersebut menjadi dalih umum untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap pro-Soekarno. Tanpa pengadilan yang jelas, sosok penyumbang emas Monas itu akhirnya ditangkap.

Tahun 1966 menjadi awal kisah tragis Teuku Markam. Ia dijebloskan ke penjara selama delapan tahun, sementara seluruh hartanya dirampas habis.

Perusahaannya diambil alih negara dan dijadikan BUMN. Rumah, tanah, hingga kendaraan disita, membuat sang penyumbang emas kehilangan segalanya selain pakaian yang melekat di tubuhnya.

Saat bebas pada 1974, Markam bukan lagi siapa-siapa. Namanya telah tercoreng dan dicap sebagai pengkhianat negara, meski ia mencoba bangkit dan menuntut keadilan.

Upaya tersebut dilakukan demi merebut kembali aset-asetnya, namun semuanya berakhir sia-sia. Negara seakan lupa bahwa emas yang berkilauan di puncak Monas berasal dari keringatnya.

Pada 1985, Teuku Markam meninggal dunia dalam sunyi, membawa luka batin yang tak pernah sembuh oleh waktu. Tragisnya, hingga hari ini, jutaan pasang mata berpose bahagia di bawah bayang-bayang Monas.

Mereka tak pernah tahu bahwa ada nama besar yang dikorbankan demi emas di puncaknya. Ia memberi cahaya bagi ibu kota, namun namanya dibiarkan meredup dalam gelapnya sejarah.

Baca Juga: Berhasil Selamatkan Abdul Haris Nasution, Tetapi Ia Justru Harus Kehilangan Putri Kecilnya pada Malam Itu

Related Post

Tinggalkan komentar