Sekitarbandung.com – Soekarno yang sedang diasingkan Belanda ke Bengkulu pada tahun 1938 bertemu dengan gadis belia bernama Fatmawati. Awalnya mereka hanya memiliki hubungan guru dan murid.
Soekarno mengajar, Fatmawati menyimak. Namun benih cinta tumbuh. Soekarno terpukau pada kesederhanaan dan kecantikan “Bunga dari Bengkulu” ini, meski usia mereka terpaut jauh.
Pada tahun 1943, di tengah kecamuk pendudukan Jepang, mereka menikah. Pernikahan itu digelar bersahaja, bahkan diwakilkan akibat kesibukan Soekarno di Jakarta.
Fatmawati pun diboyong ke Jakarta, siap mendampingi Sang Singa Podium menuju gerbang kemerdekaan.
Momen paling heroik terjadi menjelang 17 Agustus 1945. Fatmawati sedang hamil tua (mengandung Guntur Soekarnoputra). Dokter melarangnya menggunakan mesin jahit kaki.
Namun demi proklamasi, ia memaksakan diri menjahit Bendera Merah Putih menggunakan tangan, jahitan demi jahitan, sambil menahan sakit dan haru. Bendera itulah yang kelak dikibarkan dan kita hormati hingga detik ini.
Ujian terberat datang pada awal tahun 1950-an. Bung Karno meminta izin, “Fat, aku minta izinmu, aku akan kawin dengan Hartini.”
Dunia Fatmawati langsung runtuh begitu saja. Ia adalah seorang wanita yang memegang teguh prinsip anti-poligami.
Baginya, cinta itu suci dan tidak boleh dibagi, apalagi ia sudah memberikan segalanya, termasuk lima orang anak, untuk Bung Karno.
Fatmawati menolak dimadu. Dengan hati hancur tetapi kepala tegak, ia berkata:
“Di sini bukan rumahku lagi.” Ia memilih angkat kaki dari Istana Merdeka.
Baca Juga: Tragedi Semanggi 1998, Saat Soeharto Sudah Turun tetapi Mahasiswa Masih Ditembak Mati
Fatmawati pun meninggalkan kemewahan dan meninggalkan status Ibu Negara. Semua itu ia lakukan demi mempertahankan harga dirinya yang telah diinjak-injak.
Sejak saat itulah, Fatmawati tidak pernah mau menginjakkan kaki lagi di Istana selama Soekarno masih di sana.
Meski berpisah rumah, Fatmawati tidak pernah menceraikan Soekarno. Ia tetap menyimpan cintanya dalam diam di rumah pribadinya di Cilandak.
Soekarno pun sebenarnya sangat mencintainya. Bahkan dalam wasiatnya, Bung Karno ingin dikuburkan dengan “Bendera Merah Putih yang dijahit langsung oleh tangan Fatmawati.”
Fatmawati wafat pada tahun 1980 di Kuala Lumpur usai pulang umrah. Ia pergi menyusul Bung Karno yang sudah lebih dulu wafat pada tahun 1970.
Kisah mereka mengajarkan kita bahwa ada wanita hebat yang berani melepaskan jabatan “Ratu” demi tidak mengkhianati nuraninya sendiri.
Terima kasih, Ibu Fatmawati. Jahitan tanganmu tak sekadar menyatukan kain merah dan putih, tetapi merajut kedaulatan Indonesia.
Namun di balik Sang Saka, keteguhan hatimu adalah teladan abadi tentang keberanian dan harga diri seorang wanita yang tak pernah goyah oleh keadaan.
Jasa dan prinsipmu akan selalu hidup dalam nadi bangsa Indonesia ini. Al-Fatihah.
Baca Juga: Adam Malik Tak Punya Ijazah Tinggi, Tetapi Jadi Orang Indonesia Pertama yang Pimpin Sidang PBB

