Adam Malik Tak Punya Ijazah Tinggi, Tetapi Jadi Orang Indonesia Pertama yang Pimpin Sidang PBB

Sekitarbandung.com – Kecil, lincah, dan bermata tajam. Itulah Adam Malik. Siapa sangka, pria yang kelak fotonya dipajang di dinding sekolah sebagai Wakil Presiden ini, ternyata

Dicky Wicaksono

Adam Malik Tak Punya Ijazah Tinggi, Tetapi Jadi Orang Indonesia Pertama yang Pimpin Sidang PBB
Adam Malik Tak Punya Ijazah Tinggi, Tetapi Jadi Orang Indonesia Pertama yang Pimpin Sidang PBB

Sekitarbandung.com – Kecil, lincah, dan bermata tajam. Itulah Adam Malik. Siapa sangka, pria yang kelak fotonya dipajang di dinding sekolah sebagai Wakil Presiden ini, ternyata masa sekolahnya sendiri “berantakan”.

Adam hanya lulusan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (setara SD) dan sempat masuk pesantren/madrasah, tetapi keluar karena ingin merantau ke Jakarta di usia 17 tahun.

Adam tak percaya gelar, ia percaya ilmu. Di Jakarta, ia melahap ribuan buku. Uangnya habis bukan untuk membeli baju bagus, tetapi untuk membeli buku bekas.

Ia belajar politik secara otodidak, belajar bahasa asing dari pergaulan, dan belajar menulis dari jalanan. Kampusnya adalah trotoar dan dosennya adalah realita.

Modal nekat, ia mendirikan Kantor Berita ANTARA. Ia menjadi wartawan tempur yang merekam denyut nadi revolusi. Tulisannya tajam dan analisanya melampaui para sarjana lulusan Belanda.

Dari wartawan, ia banting setir menjadi diplomat. Apakah ia sempat merasa minder? Tentu jawabannya tidak sama sekali pun.

Di meja perundingan, Adam Malik dijuluki “Si Kancil”. Ia licin, cerdik, dan luwes. Ia bisa ngopi bareng agen CIA (Amerika) di pagi hari dan makan malam bareng agen KGB (Rusia) di malam hari.

Baca Juga: Mohammad Natsir Berjuang dalam Menyatukan Indonesia, tetapi Justru Dibalas dengan Penjara dan Jas Bertambal

Prinsipnya legendaris: “Semua Bisa Diatur.” Baginya, diplomasi bukan soal kaku-kakuan protokol, tetapi soal memenangkan kepentingan Indonesia dengan cara apa pun.

Dunia terbelalak. Pria yang tak tamat sekolah menengah ini terpilih menjadi Ketua Majelis Umum PBB ke-26 pada tahun 1971. Ia memimpin sidang yang dihadiri ratusan doktor dan profesor dari seluruh dunia.

Palu sidang di tangannya membuktikan bahwa kecerdasan otentik tidak dicetak di gedung universitas.

Tanpa tangan dinginnya, mungkin ASEAN tidak akan pernah berdiri. Tanpa lobi-lobi senyapnya, mungkin Irian Barat masih jadi sengketa berdarah.

Adam menyelesaikan konflik besar bukan dengan peluru, tetapi dengan senyuman dan obrolan santai yang mematikan lawan.

Adam Malik wafat pada tahun 1984. Ia meninggalkan warisan berupa 50.000 buku koleksinya dan sebuah pesan tersirat:

“Jangan minder kalau kamu tak punya ijazah mentereng. Minderlah kalau kamu tak punya ISI KEPALA.”

Terima kasih, Pak Adam. Si Kancil penakluk dunia.

Baca Juga: Sisi Gelap Masa Orde Lama, Jutaan Rakyat Menderita karena Ambisi Perang Para Penguasa

Related Post

Tinggalkan komentar