Orasi Bung Tomo Bikin Penjajah Gemetar, tetapi Malah Berakhir Dipenjara oleh Pemerintahannya Sendiri

Sekitarbandung.com – Saat Surabaya digempur dari darat, laut, dan udara oleh pemenang Perang Dunia II, tentara Inggris dengan keputusasaan yang sudah di depan mata pada

Dicky Wicaksono

Orasi Bung Tomo Bikin Penjajah Gemetar, tetapi Malah Berakhir Dipenjara oleh Pemerintahannya Sendiri
Orasi Bung Tomo Bikin Penjajah Gemetar, tetapi Malah Berakhir Dipenjara oleh Pemerintahannya Sendiri

Sekitarbandung.com – Saat Surabaya digempur dari darat, laut, dan udara oleh pemenang Perang Dunia II, tentara Inggris dengan keputusasaan yang sudah di depan mata pada November 1945, Bung Tomo muncul dengan suara lantangnya.

“Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka!” tegasnya dari radio yang mampu membakar darah rakyat Surabaya.

Banyak yang mengira Bung Tomo itu jenderal militer. Padahal, ia hanyalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai wartawan.

Tetapi melalui corong Radio Pemberontakan, suaranya berhasil menggerakkan puluhan ribu santri dan rakyat jelata untuk melawan tank dan pesawat tempur Inggris dengan senjata seadanya.

Setelah Indonesia merdeka, apakah hidupnya enak? Justru sebaliknya. Bung Tomo merupakan orang yang lurus dan tidak bisa melihat ketidakadilan.

Di era Orde Lama, ia berani melawan Bung Karno secara terbuka. Ia menggugat ke pengadilan saat Soekarno membubarkan DPR hasil pemilu, dan mengkritik keras kedekatan pemerintah dengan PKI.

Ganti presiden, ganti nasib? Ternyata tidak. Di era Orde Baru, Bung Tomo kembali vokal. Ia mengkritik keras korupsi pejabat dan proyek mewah Taman Mini (TMII).

Baca Juga: Kristiani Herrawati Temani Sejak Jadi Perwira Muda, hingga Mengantar SBY ke Puncak Istana Negara

Menurutnya, korupsi tersebut merugikan dan menghamburkan uang rakyat. Akibat keberaniannya, pada April 1978, pahlawan kemerdekaan ini ditangkap dan dipenjara selama setahun tanpa pernah diadili.

Setelah keluar dari penjara, ruang geraknya dibatasi. Ia tak lagi boleh berpidato keras. Pada tahun 1981, Bung Tomo menunaikan ibadah haji.

Di sanalah, di Padang Arafah, sang singa podium itu menghembuskan napas terakhirnya. Ia wafat dengan tenang, jauh dari hiruk-pikuk politik negara yang sering menyakitinya.

Ironisnya, karena ia sering mengkritik penguasa (baik era Soekarno maupun Soeharto), pemerintah sangat lama mengakui jasanya.

Gelar Pahlawan Nasional baru diberikan kepada Bung Tomo pada tahun 2008. Dengan kata lain, ia mendapatkan gelar tersebut 27 tahun setelah ia menghembuskan napas terakhirnya.

Sejarah hidup Bung Tomo meninggalkan catatan pahit bagi kita semua. Ia membuktikan bahwa medan laga melawan penjajah hanyalah ujian nyali.

Hal tersebut dikarenakan panggung kebenaran di depan penguasa sendiri adalah ujian kesetiaan yang sesungguhnya.

Alfatihah, teruntuk almarhum Bung Tomo.

Baca Juga: Syafruddin Prawiranegara Pernah Pimpin Negara Ini, tetapi Namanya Sengaja Dihilangkan dari Buku Pelajaran Sekolah

Related Post

Tinggalkan komentar