Sekitarbandung.com – Kalau pahlawan lain berjuang mengangkat senjata, pria berdarah Arab ini berjuang menantang maut bermodalkan mesin tik dan kaus kaki. Namanya Abdurrahman Baswedan.
Abdurrahman Baswedan merupakan seorang jurnalis, diplomat, dan pahlawan nasional yang mempertaruhkan nyawanya demi satu lembar dokumen penting.
Jauh sebelum kemerdekaan, Belanda memiliki taktik licik untuk memisahkan golongan keturunan Arab dengan kaum bumiputera agar tidak bersatu.
A.R. Baswedan muak dengan hal tersebut. Pada tahun 1934, ia memprakarsai Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Di sana, mereka bersumpah:
Tanah air mereka adalah Indonesia, bukan lagi Hadramaut (Yaman). Belanda pun ketar-ketir.
Pada tahun 1947, Indonesia telah merdeka, tetapi Belanda memblokade negara kita dan belum ada negara luar yang mengakuinya secara resmi.
Tanpa pengakuan tersebut, Indonesia bisa saja dianggap sebagai pemberontak dan dihapus dari peta dunia.
A.R. Baswedan bersama Agus Salim diutus Soekarno menjalani misi berisiko tinggi ke Mesir untuk mencari dukungan.
Perjuangan di Mesir berhasil. Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dokumen perjanjian persahabatan itu pun resmi ditandatangani.
Namun, masalah terbesarnya adalah bagaimana cara membawa dokumen tersebut pulang ke Jakarta yang sedang diblokade total oleh intel militer Belanda?
Sebab, jika ketahuan, dokumen itu pasti akan dihancurkan dan A.R. Baswedan bisa dibunuh.
Di sinilah plot twist terjadi. Saat melewati pemeriksaan superketat di bandara dan pelabuhan yang dijaga Belanda, A.R. Baswedan melakukan hal yang tidak terduga.
Ia melipat dokumen kenegaraan yang sangat sakral itu, lalu menyembunyikannya di dalam sepatu dan kaus kakinya.
Jantungnya berdebar kencang saat diperiksa intel Belanda. Namun, berkat ketenangannya, ia berhasil lolos. Begitu tiba di Indonesia, ia langsung menemui Presiden Soekarno.
Ia menyerahkan dokumen lecek dari dalam sepatunya tersebut. Soekarno menangis haru. Surat Pengakuan Kedaulatan RI dari Pemerintah Mesir itulah yang akhirnya memaksa dunia internasional mengakui kedaulatan Indonesia.
Satu orang, satu pasang kaus kaki, dan satu misi yang tampak mustahil. Tanpa aksi nekat sang jurnalis ini, mungkin sejarah kita akan tertulis berbeda.
A.R. Baswedan bukan hanya menyelamatkan dokumen, tetapi juga menyelamatkan wajah Indonesia di mata dunia.
Kisah ini menjadi bukti bahwa pahlawan tidak selalu berjubah, tetapi terkadang hanya pria bersahaja dengan mesin tik dan keberanian yang meluap-luap.
Baca Juga: Jadikan Kapalnya Umpan Musuh, Komodor Yos Sudarso Rela Tenggelam Demi Selamatkan Ratusan Anak Buah

