Sekitarbandung.com – Sebelum bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien adalah seorang janda. Suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur di medan tempur melawan Belanda pada tahun 1878.
Kematian suaminya tersebut tidak membuatnya menangis cengeng, justru membuatnya bersumpah. Ia akan menghancurkan Belanda sampai ke akar-akarnya.
Teuku Umar yang kagum dengan ketangguhan Cut Nyak Dhien datang untuk melamarnya. Awalnya, Cut Nyak Dhien menolak keras. Namun, ia akhirnya luluh ketika Teuku Umar menyetujui satu syarat mutlak darinya.
“Saya mau menikah denganmu, asalkan saya diizinkan turun langsung ke garis depan medan perang.”
Teuku Umar setuju. Sejarah “Power Couple” Aceh pun dimulai!
Pada tahun 1893, Teuku Umar melakukan manuver yang membuat seluruh rakyat Aceh marah besar. Ia tiba-tiba menyatakan menyerah dan bergabung dengan militer Belanda.
Belanda merespons hal tersebut dengan kegirangan luar biasa, bahkan memberinya gelar kehormatan serta akses ke ribuan senjata api modern beserta pasukan.
Ternyata, itu semua adalah taktik tingkat tinggi yang sudah direncanakan bersama Cut Nyak Dhien. Selama 3 tahun mereka mengumpulkan 800 pucuk senjata modern, 25.000 peluru, dan dana melimpah dari Belanda.
Baca Juga: Jadikan Kapalnya Umpan Musuh, Komodor Yos Sudarso Rela Tenggelam Demi Selamatkan Ratusan Anak Buah
Setelah itu, Teuku Umar dan pasukannya kabur membawa semua fasilitas tersebut untuk dibagikan kepada pejuang Aceh. Belanda akhirnya murka dan merasa sangat malu.
Pada Februari 1899, pengkhianatan dari mata-mata membuat pasukan Teuku Umar disergap di Meulaboh. Sang suami tercinta gugur tertembak peluru musuh.
Melihat ayahnya gugur, anak perempuan mereka, Cut Gambang, menangis histeris. Apa reaksi Cut Nyak Dhien? Ia menampar putrinya dan berkata:
“Perempuan Aceh tidak boleh menangis di hadapan orang yang gugur syahid!”
Kehilangan dua suami di medan perang tidak membuat Cut Nyak Dhien berhenti. Ia mengambil alih komando dan memimpin pasukan gerilya keluar masuk hutan selama bertahun-tahun.
Bahkan ketika usianya telah menua, matanya rabun hingga buta, dan fisiknya sakit-sakitan, ia tetap menolak menyerah. Hingga akhirnya ia dikhianati oleh anak buahnya sendiri karena kasihan melihat kondisinya.
Dua nyawa, satu perjuangan. Dari mereka kita belajar bahwa perempuan Aceh tidak dilahirkan untuk menangisi nasib, tetapi untuk mengubah sejarah.
Hormat setinggi-tingginya untuk Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Alfatihah untuk mereka.

