Sekitarbandung.com – K.H. As’ad Humam merupakan pahlawan pemberantas buta huruf Al-Qur’an. Ia adalah sosok di balik sampul belakang buku Iqro.
Bagi generasi 90-an hingga sekarang, wajah kakek bertongkat tersebut tentu sangat melekat di ingatan karena selalu menemani masa kecil setiap sore di TPA atau masjid.
Banyak yang mengira ia adalah ulama besar lulusan universitas luar negeri. Kenyataannya, ia justru putus sekolah dari Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Ia berhenti saat masih duduk di kelas dua. Bahkan, profesi sehari-harinya hanyalah seorang pedagang perhiasan imitasi di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.
Di balik fotonya yang tersenyum tenang, tersimpan kisah fisik yang menyayat hati. Sejak remaja, ia terserang penyakit pengapuran tulang belakang yang sangat parah.
Penyakit tersebut membuat lehernya kaku hingga tidak bisa menengok dan tubuhnya membungkuk permanen. Ia bahkan kesulitan bergerak serta harus bertumpu pada tongkat seumur hidupnya.
Meski fisiknya rapuh, semangatnya tetap menyala. Pada masa itu, metode belajar mengaji “Baghdadiyah” dianggap sangat lama dan sulit.
Dengan susah payah, bahkan terkadang sambil berbaring menahan sakit, ia merumuskan metode baru yang revolusioner, cepat, dan mudah. Metode tersebut kemudian lahir dengan nama Iqro.
Siapa sangka, karya dari seorang pedagang pasar yang putus sekolah itu meledak luar biasa. Dampaknya begitu besar hingga dirasakan sampai sekarang.
Metode Iqro tidak hanya membantu jutaan anak Indonesia, tetapi juga diakui dan digunakan sebagai kurikulum wajib di Malaysia, Brunei Darussalam, hingga berbagai negara lainnya.
K.H. As’ad Humam wafat pada Februari 1996. Ia mungkin tidak meninggalkan istana mewah, tetapi meninggalkan amal jariyah (pahala yang terus mengalir) yang tak terhitung jumlahnya.
Setiap huruf Al-Qur’an yang hari ini bisa dibaca oleh jutaan umat Islam, di baliknya terdapat jejak perjuangan luar biasa dan rasa sakit sang kakek.
Tanpa sosoknya, mungkin lidah kita masih kaku mengeja Al-Qur’an. Ia membuktikan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari gelar tinggi, melainkan dari ketulusan hati.
Mari kita hadiahkan Al-Fatihah untuknya.

