Sekitarbandung.com – Generasi 90-an pasti sangat hafal dengan wajah garang pemegang parang di uang kertas Rp 1.000 jadul ini. Namun, banyak yang salah sangka tentang Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy).
Banyak yang mengira ia hanyalah seorang pemuda lokal biasa yang nekat melawan meriam Belanda bermodalkan parang. Kenyataannya jauh lebih mengerikan dari itu.
Sebelum Belanda kembali menguasai Maluku pada tahun 1816, wilayah tersebut sempat dikuasai oleh Inggris. Saat itu, Thomas Matulessy direkrut dan dilatih secara intensif oleh militer Inggris.
Kariernya pun cemerlang hingga mencapai pangkat tertinggi ketiga dalam golongan bintara, yakni Sersan Mayor, di Korps Ambon. Ia sangat menguasai taktik perang modern Eropa.
Ketika kekuasaan dikembalikan kepada Belanda, militer Belanda bertindak arogan. Mereka membubarkan mantan tentara Inggris, termasuk Pattimura.
Bahkan, mereka menolak membayar upah serta memonopoli perdagangan rempah-rempah yang mencekik rakyat Maluku. Salah memilih lawan, Belanda justru membangunkan amarah seorang ahli perang yang sedang tertidur.
Pada Mei 1817, Pattimura memimpin pemberontakan. Karena memahami taktik militer Eropa, serangan ini bukanlah serangan membabi buta. Dalam waktu singkat, pasukannya sukses merebut Benteng Duurstede yang dijaga ketat.
Baca Juga: Kondisi Negara Miskin Parah, Ir. Soekarno Justru Nekat Bangun Stadion Gunakan Uang Uni Soviet
Residen Belanda, Johannes van den Berg, beserta seluruh keluarganya tewas dalam penyerbuan tersebut. Belanda pun mengalami guncangan besar.
Mereka mengirim armada besar dari Batavia di bawah kepemimpinan Laksamana Buykes untuk merebut kembali Saparua.
Namun, berulang kali pasukan Belanda dihancurkan oleh taktik gerilya cerdas Pattimura. Belanda benar-benar dibuat frustrasi dan kehabisan akal.
Seperti banyak kisah tragis pahlawan Nusantara lainnya, Belanda akhirnya menggunakan taktik licik, yakni mengadakan sayembara dengan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa menangkapnya.
Sayangnya, taktik tersebut berhasil. Pattimura dikhianati oleh Raja Booi dan akhirnya ditangkap pada November 1817.
Pada 16 Desember 1817, di depan Benteng Victoria, Ambon, Pattimura dihukum gantung. Sebelum tali menjerat lehernya, ia meneriakkan pesan yang abadi:
“Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit!”
Sebuah kalimat yang kemudian menjadi simbol perlawanan dan membakar semangat perjuangan rakyat di masa-masa berikutnya.
Baca Juga: Diabadikan Jadi Kawasan Mewah, Padahal Pemilik Nama M. H. Thamrin Gugur Sebagai Tahanan Rumah

