Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak tahu Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK)? Ini merupakan stadion termegah yang menjadi kebanggaan Indonesia dari nama Ir. Soekarno.
Namun tahukah kalian, di balik kemegahannya saat ini, GBK lahir dari sebuah ambisi besar yang nyaris mustahil diwujudkan pada masanya?
Pada tahun 1958, Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games IV (1962). Masalahnya, kondisi ekonomi negara saat itu sedang hancur lebur.
Angka inflasi tinggi dan rakyat masih banyak yang miskin. Banyak yang memprotes Soekarno:
“Buat apa bikin stadion raksasa kalau rakyat masih susah makan?”
Soekarno tidak peduli dengan protes tersebut. Baginya, ini merupakan momen pembuktian bahwa bangsa Indonesia bukan lagi “kuli” di mata dunia.
Karena tidak mempunyai uang, ia terbang ke Moskow dan melobi Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Khrushchev. Hebatnya, Soviet setuju memberikan utang lunak sebesar 12,5 juta dollar AS khusus untuk membangun stadion ini.
Untuk membangun kompleks olahraga sebesar itu dibutuhkan lahan raksasa. Pilihan akhirnya jatuh pada kawasan Senayan. Ironisnya, lahan itu adalah rumah bagi sekitar 60.000 warga Betawi dari empat kampung.
Demi negara, puluhan ribu warga tersebut akhirnya digusur secara massal dan dipindahkan ke daerah Tebet, yang saat itu dianggap masih berupa rawa-rawa.
Pembangunan dimulai pada tahun 1960 dan selesai dalam waktu 2,5 tahun. Arsitek Uni Soviet dan insinyur Indonesia menciptakan atap “Temu Gelang” (cincin raksasa yang menyambung) yang sangat revolusioner di eranya.
Atap ini mampu melindungi kurang lebih 100.000 penonton dari panas dan hujan tanpa satu pun tiang penyangga yang menghalangi pandangan.
Saat Orde Baru berkuasa, nama besar Soekarno sempat berusaha “dihapus”. Pada tahun 1984, Presiden Soeharto mengganti nama stadion ini menjadi Stadion Utama Gelora Senayan.
Baru pada era Presiden Gus Dur pada tahun 2001, nama “Gelora Bung Karno” resmi dikembalikan kepada sang pencetus ide besar tersebut. Dari ambisi yang dianggap mustahil, menjadi ikon abadi harga diri bangsa.
GBK membuktikan bahwa dengan keberanian, bangsa yang baru merdeka pun bisa memiliki mahakarya dunia.
Hari ini, kita menikmatinya sebagai pusat olahraga dan hiburan. Namun ingatlah, tiap jengkal tanahnya mengandung keringat para pekerja dan kerelaan warga yang menyingkir demi mimpi besar Indonesia.

