Sekitarbandung.com – Pahlawan tidak selalu identik dengan mengangkat senjata di medan perang. Seorang pemuda bernama Anthonius Gunawan Agung yang baru berusia 21 tahun membuktikan arti pahlawan yang sesungguhnya.
Pada 28 September 2018, Indonesia melahirkan sosok pahlawan modern dari balik bilik kaca menara pemandu lalu lintas udara (ATC) Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu.
Sore itu, pukul 18.02 WITA, gempa dahsyat bermagnitudo 7,4 mengguncang Palu. Guncangannya terasa begitu brutal bagi warga sekitar.
Menara ATC setinggi empat lantai tempat Agung bertugas mulai retak parah, bergoyang hebat, dan terancam ambruk kapan saja. Rekan-rekannya panik dan langsung berlarian turun untuk menyelamatkan diri.
Agung sebenarnya bisa ikut berlari. Namun di landasan pacu, pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan 6231 yang membawa ratusan penumpang sedang bersiap lepas landas.
Jika Agung meninggalkan radar dan komunikasinya saat itu, pesawat berisiko kehilangan panduan atau mengalami kecelakaan fatal di landasan yang mulai retak. Ia pun mengambil keputusan besar, tetap bertahan di kursinya.
Di tengah bangunan yang hampir runtuh, Agung menolak turun. Ia terus memandu pilot Kapten Ricosetta Mafella hingga pesawat benar-benar mengudara dengan selamat.
Kata-kata terakhir yang diucapkannya melalui radio sesaat sebelum pesawat terbang adalah:
“Batik 6231 clear for take off.”
Setelah memastikan ratusan nyawa di dalam pesawat tersebut aman di udara, barulah Agung memikirkan keselamatannya sendiri. Namun sudah terlambat, kondisi menara semakin hancur.
Dalam keadaan terjepit dan panik, Agung terpaksa melompat dari lantai empat menara. Ia mengalami patah tulang parah serta cedera organ dalam.
Agung segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Rencananya, ia akan diterbangkan dengan helikopter ke Balikpapan keesokan paginya untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai.
Namun takdir berkata lain. Sebelum helikopter tiba, pahlawan muda ini mengembuskan napas terakhirnya. Ia gugur demi memastikan orang lain tetap hidup.
Usianya memang baru 21 tahun, tetapi tingkat pengorbanan dan tanggung jawabnya jauh melampaui usianya. Atas dedikasinya, AirNav Indonesia menaikkan pangkatnya dua tingkat.
Mari luangkan waktu sejenak untuk mengirimkan Al-Fatihah atau doa terbaik bagi pahlawan udara kita ini.
Baca Juga: Kondisi Negara Miskin Parah, Ir. Soekarno Justru Nekat Bangun Stadion Gunakan Uang Uni Soviet

