Sekitarbandung.com – Selama 28 tahun (1961–1989), Tembok Berlin berdiri sebagai simbol kekejaman Perang Dingin. Tembok ini membelah kota menjadi dua, yaitu Berlin Barat (bebas) dan Berlin Timur (komunis).
Jutaan keluarga pun akhirnya terpisah secara terpaksa. Ratusan orang tewas ditembak oleh penjaga perbatasan karena nekat memanjat tembok demi menemui keluarganya.
Memasuki akhir tahun 1989, warga Jerman Timur sudah muak. Demonstrasi besar-besaran meledak di berbagai tempat untuk menuntut kebebasan bepergian.
Pemerintah Jerman Timur panik. Untuk meredam amarah warga, mereka diam-diam menyusun aturan baru yang sedikit melonggarkan izin ke luar negeri, tetapi dengan syarat birokrasi yang sangat rumit.
Aturan baru itu diserahkan kepada Günter Schabowski, juru bicara partai, sesaat sebelum ia menggelar konferensi pers yang disiarkan langsung di televisi.
Masalahnya, Schabowski belum membaca isi dokumen tersebut dan tidak mengikuti rapat pembuatannya. Ia sama sekali tidak mengetahui detail aturan rumit tersebut.
Saat ditanya oleh wartawan kapan aturan pelonggaran perbatasan itu mulai berlaku, Schabowski kebingungan sambil membolak-balik kertasnya. Lalu meluncurlah kalimat blunder paling legendaris dalam sejarah.
“Sejauh yang saya tahu, aturan ini berlaku segera, tanpa penundaan.”
Baca Juga: James Harrison Rutin Donor Darah Selama 60 Tahun Demi Selamatkan Nyawa Jutaan Bayi
Kalimat “berlaku segera” itu disiarkan langsung ke seluruh Jerman Timur. Jutaan warga yang menonton televisi langsung tumpah ruah berlarian menuju Tembok Berlin pada malam itu juga.
Mereka berteriak menuntut penjaga perbatasan untuk membuka gerbang sesuai dengan ucapan Schabowski di televisi. Penjaga perbatasan yang kalah jumlah dan kebingungan tanpa instruksi dari atasan akhirnya menyerah.
Mereka pun membuka gerbang. Malam itu, tangis haru pecah. Warga Berlin Barat dan Berlin Timur saling berpelukan. Mereka membawa palu, godam, hingga tangan kosong.
Hal tersebut mereka lakukan semata-mata untuk menghancurkan tembok yang telah mengurung mereka selama hampir tiga dekade tersebut.
Sejarah pun membuktikan bahwa tembok beton setinggi apa pun tidak akan mampu membendung kerinduan manusia akan kebebasan.
Runtuhnya Tembok Berlin bukan dimulai dari meja diplomasi, melainkan dari blunder seorang birokrat dan keberanian jutaan rakyat yang menjemput takdir mereka pada malam itu.

