Sekitarbandung.com – Belakangan ini ada sejumlah warganet yang mempertanyakan tentang “Desil“. Beberapa pertanyaan tersebut kurang lebih seperti ini:
- “Lho, kok saya masuk Desil 4?”
- “Tetangga saya Desil 2, padahal punya sepeda motor!”
- “Mengapa saya naik jadi Desil 6?”
Tenang. Jangan terburu-buru panik dulu dan jangan langsung curiga dengan tetangga. Pahami terlebih dahulu pengertian dan konsep Desil.
Secara sederhana, Desil merupakan pembagian data menjadi 10 kelompok yang sama besar berdasarkan urutan tertentu. Pada konteks ini, yang diurutkan adalah tingkat pengeluaran atau kesejahteraan.
Sekarang bayangkan ada sekitar 100 orang yang diurutkan berdasarkan tingkat kesejahteraannya, dimulai dari yang paling rendah.
Urutan tersebut bukan vonis. Itu merupakan cara statistik membaca posisi. Statistik memang membuat peringkat, tetapi peringkat yang ilmiah.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Mendekati Rp17.000 per Dolar AS pada Awal Perdagangan
Lalu, mengapa Desil terkadang terlihat tidak sesuai dengan kondisi di lapangan?
1. Desil Itu Based on Data, Bukan Kesan Mata
Desil dihitung dari data sosial ekonomi, terutama pengeluaran dan indikator kesejahteraan lainnya.
Artinya, yang dihitung adalah data terukur, bukan dari tampilan rumah dari luar, jumlah motor di teras, atau outfit saat kondangan. Statistik bekerja dengan angka, bukan asumsi.
2. Data Mempunyai Waktu Rekam
Kondisi ekonomi bersifat dinamis. Bisa jadi saat pendataan, usaha dan pekerjaannya lancar, tetapi setelah itu bisa saja terjadi perubahan kondisi.
Jadi, jika ada yang merasa “kok tidak sesuai?”, bisa jadi kondisinya memang sudah berubah setelah data direkam.
3. Masing-masing Mempunyai Cerita
Dalam satu rumah tangga, ada banyak cerita. Ada yang bekerja tetap, ada yang tidak. Ada yang memiliki tanggungan sekolah, biaya kesehatan, dan lain-lain.
Desil dihitung dari keseluruhan kondisi rumah tangga, bukan hanya satu indikator saja. Jadi, bukan soal “memiliki motor atau tidak”, tetapi tentang kombinasi dari berbagai variabel.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa Desil hanyalah alat statistik untuk membaca gambaran besar kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Pemahaman yang tepat diharapkan dapat membantu masyarakat melihat data secara lebih objektif tanpa terburu-buru menarik kesimpulan.
Baca Juga: Ekonomi Naik tetapi Kemiskinan Turun? Apa yang Harus Dilakukan?

