Sekitarbandung.com – Wajah tokoh pahlawan di uang Rp10.000 bukan hanya sekadar gambar penghias uang kertas. Ia adalah raksasa sejarah dari ujung timur Indonesia yang kesetiaannya tak bisa dibeli. Namanya Frans Kaisiepo.
Lahir di Pulau Biak pada tahun 1921, Frans tumbuh dengan jiwa nasionalisme yang sangat menyala di tengah ketatnya cengkeraman penjajah.
Ketika banyak elite lokal pada masa itu memilih tunduk kepada Belanda demi posisi aman dan jabatan, Frans justru memilih jalan sunyi yang penuh bahaya. Hatinya sudah merah putih sejak awal.
Ketegangan memuncak pada bulan Juli 1946. Saat itu, Belanda menggelar Konferensi Malino dengan niat yang sangat licik.
Mereka membentuk negara-negara boneka untuk memecah belah wilayah Indonesia. Frans Kaisiepo diundang hadir sebagai satu-satunya delegasi yang mewakili tanah kelahirannya, Papua. Di sanalah nyali bajanya diuji.
Di hadapan para perwira dan pejabat tinggi militer Belanda yang angkuh, Frans melakukan manuver yang sangat nekat. Ia menolak keras penggunaan nama “Nederlands Nieuw Guinea” yang berbau kolonialisme.
Baca Juga: Hanya Modal Bersenjatakan Puisi, tetapi Suaranya Wiji Thukul Lebih Ditakuti daripada Desingan Peluru
Dengan lantang, ia mengganti nama wilayahnya menjadi “IRIAN”, sebuah kata puitis yang ia ambil dari bahasa asli Biak. Belanda awalnya tertipu, mengira itu hanyalah sebutan lokal biasa.
Namun, betapa terkejut dan murkanya mereka saat menyadari makna politis yang disembunyikan Frans. Tanpa rasa takut, Frans menyusupkan sebuah singkatan yang kuat.
IRIAN adalah kependekan dari: Ikut Republik Indonesia Anti Nederland! Tamparan keras di ruang konferensi itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Karena terus menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda, Frans menjadi target utama. Ia akhirnya ditangkap.
Selain itu, ia juga dijebloskan ke penjara dan diasingkan ke tempat terpencil selama bertahun-tahun demi mematahkan semangatnya. Namun, ia tak pernah menyerah.
Beruntung, semangat teguhnya tidak pernah padam hingga Papua resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi secara utuh.
Mulai hari ini, jika setiap kali kalian memegang atau melipat selembar uang sepuluh ribu rupiah, maka ingatlah perjuangannya.
Baca Juga: Tolak Rumah Gratis dari Negara, Try Sutrisno Lebih Pilih Nyicil Sendiri Belasan Tahun

