Sekitarbandung.com – Keangkuhan tembok Istana Negara runtuh seketika pada penghujung tahun 1999 saat KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, resmi dilantik menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Sosok kiai nyentrik sekaligus budayawan ini datang membawa angin perubahan yang di luar kebiasaan protokoler negara, hingga membuat para pejabat senior geleng-geleng kepala saat awal masa jabatannya.
Tanpa basa-basi, ia memangkas berbagai aturan protokoler yang dianggap terlalu kaku dan berlebihan, serta mendeklarasikan prinsip bahwa Istana Negara adalah milik rakyat, bukan milik penguasa.
Pintu gerbang yang sebelumnya dijaga ketat oleh petugas pun mendadak terbuka lebar, tanpa lagi skrining yang terasa mengintimidasi.
Rakyat dari berbagai penjuru mulai berdatangan, mulai dari petani dengan pakaian sederhana, nelayan dengan kulit terbakar matahari, hingga para santri dan kiai kampung yang membawa nuansa khas pedesaan.
Maka terciptalah pemandangan yang tak biasa sekaligus mengharukan dalam sejarah kepresidenan Indonesia, di lorong-lorong istana yang biasanya hanya dilalui para diplomat.
Kini, terlihat warga berseliweran dengan sarung kotak-kotak, peci miring, hingga sandal jepit yang berbunyi di atas lantai mewah.
Puncaknya, suasana istana yang sebelumnya terasa kaku berubah menjadi hangat layaknya serambi masjid, di mana warga yang kelelahan setelah perjalanan jauh diperbolehkan beristirahat.
Tanpa rasa canggung maupun takut, rakyat kecil bahkan terlihat selonjoran hingga tertidur di atas karpet Istana Merdeka yang biasanya hanya dilewati sepatu para pejabat.
Tentu saja, pihak yang paling kerepotan adalah Paspampres yang harus memikirkan ulang standar keamanan dalam situasi yang tidak biasa tersebut, meskipun mereka tidak bisa berbuat banyak.
Hal ini karena sang presiden menolak untuk dijauhkan dari rakyatnya, sebab bagi Gus Dur, ancaman keamanan tidak lebih penting daripada hak rakyat untuk bertemu pemimpinnya.
Menurutnya, istana dibangun dan dibiayai dari keringat rakyat, sehingga rakyatlah tamu yang paling terhormat di sana.
Kini, sosok pemimpin yang memanusiakan manusia itu telah tiada, namun meninggalkan kerinduan mendalam di hati banyak orang yang pernah merasakan kedekatannya.
Baca Juga: Awalnya Hanya untuk Pejabat, Asal-Usul Uang THR Lebaran Lahir dari Perlawanan Buruh

