Sekitarbandung.com – Pada tahun 1975, Steve Wozniak, pemuda Amerika Serikat berusia 25 tahun, sangat tergila-gila dengan komputer, bahkan sampai mendesain sendiri rancangan sirkuitnya (motherboard).
Saat itu, ia sedang magang di Hewlett-Packard dan menunjukkan desainnya kepada atasannya, tetapi karyanya justru ditolak.
Temannya, Steve Jobs, melihat peluang dan menanyakan satu hal kepada Wozniak, “Mengapa tidak dijual saja?”
Steve Jobs juga seorang geek komputer, meski lebih condong ke sisi bisnis, sehingga ia heran Wozniak kerap membagikan desain komputernya secara gratis kepada banyak orang.
Pada 1 April 1976, mereka berdua mendirikan sebuah perusahaan dengan modal dari menjual barang-barang pribadi.
Keduanya sepakat bahwa perusahaan yang mereka bangun akan fokus di bidang teknologi dan diberi nama Apple.
Nama tersebut diketahui terinspirasi dari momen ikonik gravitasi Isaac Newton, dengan harapan besar yang tidak main-main.
Harapannya, Apple bisa menjadi ‘apel’ berikutnya yang mampu mengubah cara manusia memandang dunia, bahkan filosofi ini divisualisasikan dalam logo pertama Apple.
Apple I, II, dan III
Motherboard rancangan Wozniak berhasil diproduksi dan dijual seharga US$666,66, harga unik yang dipilih karena ia menyukai angka berulang, dan produk ini kemudian diberi nama Apple I.
Perusahaan terus berkembang dengan merilis komputer inovatif, seperti Apple II yang rilis pada tahun 1977 dan Apple III pada tahun 1980.
Pada Desember 1980, Apple menjadi perusahaan terbuka sehingga jumlah pemegang saham semakin banyak.
Sejak saat itu, perkembangan semakin pesat, termasuk kehadiran Apple Lisa pada 1983 dan Macintosh yang dianggap berhasil menyempurnakan penggunaan mouse pada komputer konsumen.
Wozniak dan Steve Jobs Cabut dari Apple
Namun, pada Februari 1985, Wozniak keluar dari Apple karena frustrasi akibat ketidakcocokan dengan manajemen perusahaan.
Pada September di tahun yang sama, Steve Jobs juga meninggalkan Apple setelah berselisih dengan CEO Apple saat itu, John Sculley, serta dewan direksi lainnya.
Setelah kepergian keduanya, Apple mulai merilis berbagai produk yang dianggap tidak fokus, seperti printer dan messagepad.
Baca Juga: Dispora Kota Bandung Buka Pelatihan Film Pendek Gratis Tahun 2026, Berikut Syarat dan Ketentuannya!
Kesibukan Steve Jobs dan Wozniak
Pada masa itu, Steve Jobs tengah sibuk mengembangkan perusahaan barunya di bidang teknologi, yaitu NeXT.
Selain itu, ia juga mengakuisisi divisi grafis komputer Lucasfilm, yang kemudian berkembang menjadi studio animasi Pixar.
Sementara itu, Wozniak memilih jalannya sendiri dengan menjadi guru dan melanjutkan pendidikan, serta sempat mendirikan perusahaan remote control meski tidak bertahan lama.
Di sisi lain, kondisi Apple semakin tidak menentu dengan penjualan yang terus menurun.
Keputusan Besar Apple
Pada tahun 1997, John Sculley digantikan sebagai CEO dan Apple mengambil keputusan besar dengan mengakuisisi NeXT serta mengajak Steve Jobs kembali ke perusahaan, yang menjadi titik kebangkitan Apple.
Setelah itu, Apple merilis berbagai produk ikonik seperti iMac (1998), iPod (2001), MacBook (2006), dan iPhone (2007).
Jony Ive
Desain produk Apple dikenal estetik dan berkelas serta sering ditiru oleh brand lain, berkat sosok penting di baliknya, yaitu Jony Ive sebagai arsitek visual.
Bahkan, Steve Jobs pernah menyebut Ive sebagai spiritual partnernya, sebelum akhirnya ia keluar dari Apple pada tahun 2019.
50 Tahun Apple
Kini, Apple telah berusia 50 tahun dengan valuasi mencapai US$4 triliun atau sekitar Rp65.600 triliun.
Meski begitu, kritik terus berdatangan, mulai dari produk yang dianggap membosankan, pelit fitur, hingga minim inovasi.
Kritik tersebut memang valid, namun fakta bahwa produknya tetap laku keras juga tidak bisa dibantah, dan itulah Apple.
Baca Juga: Anak Kecil Dilarang Punya Akun Media Sosial, Apa Saja Dasar Hukumnya?

