Dulu Pejuang Hak Perempuan, tetapi Hidup Umi Sardjono Berakhir Tragis Ditelan Badai Politik Tahun 1965

Sekitarbandung.com – Di balik pusaran tragedi kelam 1965, terdapat satu nama tokoh perempuan besar yang riwayatnya seakan dilenyapkan dari buku-buku pelajaran, yaitu Umi Sardjono. Di

Dicky Wicaksono

Dulu Pejuang Hak Perempuan, tetapi Hidup Umi Sardjono Berakhir Tragis Ditelan Badai Politik Tahun 1965
Dulu Pejuang Hak Perempuan, tetapi Hidup Umi Sardjono Berakhir Tragis Ditelan Badai Politik Tahun 1965

Sekitarbandung.com – Di balik pusaran tragedi kelam 1965, terdapat satu nama tokoh perempuan besar yang riwayatnya seakan dilenyapkan dari buku-buku pelajaran, yaitu Umi Sardjono.

Di era pemerintahan Orde Lama, Umi Sardjono merupakan Ketua Umum Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), salah satu organisasi perempuan terbesar di dunia pada masa itu karena memiliki jutaan anggota di seluruh pelosok Nusantara.

Jauh sebelum badai politik menerjang, Umi Sardjono bersama organisasinya dikenal sebagai pejuang hak perempuan yang sangat vokal.

Mereka turun ke desa-desa, membangun taman kanak-kanak, memberantas buta huruf, menolak praktik poligami, serta menuntut undang-undang perkawinan yang adil bagi perempuan.

Namun, panggung politik kekuasaan sangat tidak tertebak dan kejam. Karena organisasinya berafiliasi dekat dengan PKI, nasib Umi Sardjono dan jutaan anggotanya hancur seketika saat badai politik G30S/PKI meletus pada tahun 1965.

Dalam satu malam, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai pejuang hak perempuan berubah status. Mereka dituduh dan distigmatisasi secara besar-besaran oleh penguasa baru sebagai kelompok wanita amoral.

Baca Juga: Tak Gentar Lawan Penjajah, Hidup Gubernur Suryo Justru Berakhir Tragis di Tangan Pengkhianat Negara

Pintu sejarah pun tertutup rapat dan nama baik mereka dihancurkan. Di tengah histeria massa dan pembersihan politik saat itu, Umi Sardjono kemudian ditangkap oleh militer.

Ironisnya, sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh di republik ini, ia dijebloskan ke penjara tanpa pernah diberikan kesempatan untuk membela diri di meja pengadilan.

Pada tahun 1971, tragedi kemanusiaan tersebut mencapai puncaknya ketika Umi Sardjono bersama ratusan tahanan politik perempuan lainnya dibuang ke Plantungan, Jawa Tengah.

Sebuah daerah terpencil di tengah hutan yang dulunya merupakan rumah sakit isolasi bagi penderita penyakit kusta (leprosy).

Diasingkan selama bertahun-tahun di bekas kamp kusta tanpa kejelasan hukum, namanya perlahan dihapus dari sejarah dan dilupakan oleh zaman.

Kisah Umi Sardjono ini menjadi pengingat kelam bahwa betapa mahalnya harga sebuah kekuasaan politik.

Baca Juga: Rela Lepas Emas dan Perhiasan, Ibu-ibu Minangkabau ini Patungan untuk Beli Pesawat Ketiga RI

Related Post

Tinggalkan komentar