Sekitarbandung.com – Dalam kenyataannya, banyak orang miskin yang rela berutang besar hanya demi satu hari hajatan dan demi menyenangkan orang-orang yang sebenarnya tidak begitu peduli terhadap dirinya.
Hal tersebut terjadi karena sebagian orang lebih mementingkan omongan tetangga serta menjaga harga diri dibandingkan kondisi finansialnya sendiri yang jauh dari kata cukup.
Entah itu komentar tentang makanan yang kurang enak, dekorasi terop yang dianggap jelek, ataupun dress code yang dinilai kurang mewah. Hampir semua hal kerap menjadi bahan pembicaraan.
Jadi tidak perlu heran jika setelah acara hajatan selesai, banyak yang justru terlilit utang, cicilan, bahkan tidak memiliki pegangan uang sama sekali untuk masa depan.
Baca Juga: Film “Harusnya Horror” Karya Reza Arap Diduga Akan Rilis Resmi pada Bulan Juli 2026
Intinya, mereka hanya takut pada cibiran tetangga yang pedas dan lebih mengedepankan gengsi dibandingkan kemampuan finansialnya sendiri.
Sayangnya, pola seperti ini sudah terjadi secara turun-temurun di beberapa generasi. Sangat sulit untuk memutus rantainya, karena ketika mencoba berbeda justru berisiko dikritik oleh lingkungan sekitar.
Salah satu cara untuk mengcounter cibiran tetangga, misalnya bagi yang menikah cukup di KUA, lalu keesokan harinya menunjukkan pencapaian lain seperti mobil baru, rumah baru, bisnis baru, dan sebagainya.
Pada akhirnya, hajatan seharusnya menjadi momen kebahagiaan, bukan ajang pembuktian sosial yang memaksa seseorang mengorbankan kestabilan ekonomi demi penilaian orang lain.
Baca Juga: Kidal Bukan Kelainan, tetapi Evolusi Seseorang yang Banyak Akal

