Sekitarbandung.com – Pada kenyataannya, sebagian orang miskin lebih menyukai sesuatu yang instan, dan rokok dianggap bisa memberikan efek cepat serta dopamin bagi mereka.
Contohnya, saat merokok mereka merasa lebih rileks, tenang, dan sejenak melupakan masalah. Hal-hal seperti inilah yang dianggap menarik karena murah, cepat, dan langsung terasa.
Hal tersebut dibutuhkan karena banyak orang miskin mengalami stres akibat memikirkan uang, pekerjaan, utang, cicilan, masa depan, dan berbagai persoalan lainnya.
Efeknya kemudian menjadi lingkaran setan, mulai dari stres, merokok, uang habis, stres lagi, tenang sebentar, lalu kembali stres. Semua hal ini terus berulang tanpa henti.
Baca Juga: Asap Rokok = Ancaman di Sekitar Kita, Apa Saja Dampaknya?
Sebenarnya merokok adalah pilihan, tetapi yang menjadi masalah ketika seseorang rela tidak menabung, tidak berinvestasi, bahkan tidak makan demi membeli rokok.
Di sisi lain, ada juga beberapa kasus ketika merokok sudah menjadi kecanduan, di mana seseorang akan merasa pusing jika tidak merokok dalam kurun waktu beberapa jam.
Jadi, tidak sepatutnya kita menghakimi seseorang yang merokok secara semena-mena. Kita tidak selalu tahu alasan di balik kebiasaan tersebut.
Lantas, pertanyaannya sekarang, apakah ini salah orang miskinnya atau memang sistem yang membuat mereka hanya memiliki pilihan instan untuk bertahan hidup?
Baca Juga: Pemerintah Batasi Nikotin Maksimal 1 mg dan Tar 10 mg per Batang Rokok Melalui PP 28 Tahun 2024

