Berhasil Lolos dari Misi Bunuh Diri, Nasib Pilot Tempur Pertama RI ini Justru Berakhir Tragis di Surabaya

Sekitarbandung.com – Jauh sebelum Indonesia memiliki armada tempur udara yang modern, republik ini pernah melahirkan seorang pilot jenius langit bernama Mulyono. Ia bukan sembarang pilot,

Dicky Wicaksono

Berhasil Lolos dari Misi Bunuh Diri, Nasib Pilot Tempur Pertama RI ini Justru Berakhir Tragis di Surabaya
Berhasil Lolos dari Misi Bunuh Diri, Nasib Pilot Tempur Pertama RI ini Justru Berakhir Tragis di Surabaya

Sekitarbandung.com – Jauh sebelum Indonesia memiliki armada tempur udara yang modern, republik ini pernah melahirkan seorang pilot jenius langit bernama Mulyono.

Ia bukan sembarang pilot, melainkan penerbang tempur pertama milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang kemampuannya diakui kawan maupun lawan.

Siapa sangka, sebelum bermanuver di udara, pemuda Mulyono hanyalah seorang masinis kereta api di Madiun. Namun, kecerdasannya membawanya lolos menjadi kadet Sekolah Penerbang Maguwo.

Di sana, pembawaannya yang tenang, namun sangat nekat di kokpit, menjadikannya bintang di antara rekan-rekannya pada saat itu.

Namanya muncul di buku sejarah saat Agresi Militer Belanda I (1947). Ketika itu, AURI ingin membalas serangan Belanda. Mulyono diberi misi bunuh diri.

Misi tersebut yaitu mengebom markas Belanda di Semarang hanya menggunakan pesawat peninggalan Jepang (Guntei) tua. Misi ini sukses besar dan membuat Belanda syok berat.

Seiring berjalannya waktu, Mulyono berevolusi menjadi kapten yang disegani. Ia dipercaya menjinakkan P-51 Mustang, pesawat tempur pemburu paling mematikan dan tercepat di eranya.

Kapten Mulyono dikenal dengan ciri khasnya, yaitu suka melakukan manuver akrobatik tajam di udara, namun tetap bersahaja dan ramah saat kakinya menginjak bumi.

Baca Juga: Tak Sudi Kotanya Dikuasai Belanda, 200.000 Warga Bandung Bakar Rumah Mereka Sendiri

Namun, takdir sang legenda ternyata tidak berakhir di medan pertempuran. Pada petang hari tanggal 12 April 1951, sebuah senja kelabu menyelimuti Kota Pahlawan.

Kapten Mulyono yang tengah menerbangkan pesawat Mustang kebanggaannya melintasi langit Surabaya untuk sebuah misi penerbangan mengalami kecelakaan fatal.

Menghindari jatuhnya korban sipil yang lebih besar, pesawat itu terhempas keras di Kampung Kedung Klinter. Kapten Mulyono gugur seketika di kokpitnya.

Tragedi ini juga merenggut nyawa enam orang warga setempat dan melukai tiga lainnya. Keesokan harinya, seluruh Surabaya menangis.

Mengutip surat kabar Sin Po pada tanggal 13 April 1951:

“Dengan kecelakaan ini AURI kehilangan penerbang yang cakap.”

Wali Kota Surabaya bahkan menyerukan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh penjuru kota untuk melepas kepergian sang pahlawan udara.

Kapten Mulyono mungkin telah mendarat untuk selamanya, namun keberaniannya merintis kekuatan udara Indonesia yang tidak akan pernah mati.

Namanya kini diabadikan menjadi nama bandara di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Hormat setinggi-tingginya untuk sang elang!

Baca Juga: Tak Pernah Tampil di Garis Depan, Zulkifli Lubis Jadi Sosok Jenius di Balik Lahirnya Intelijen Rahasia Republik Indonesia

Related Post

Tinggalkan komentar