Tak Sudi Kotanya Dikuasai Belanda, 200.000 Warga Bandung Bakar Rumah Mereka Sendiri

Sekitarbandung.com – Pada Maret 1946, Sekutu dan NICA (Belanda) menuntut agar Tentara Republik Indonesia serta seluruh rakyat mengosongkan wilayah Bandung Selatan dan menyerahkannya untuk dijadikan

Dicky Wicaksono

Tak Sudi Kotanya Dikuasai Belanda, 200.000 Warga Bandung Bakar Rumah Mereka Sendiri
Tak Sudi Kotanya Dikuasai Belanda, 200.000 Warga Bandung Bakar Rumah Mereka Sendiri

Sekitarbandung.com – Pada Maret 1946, Sekutu dan NICA (Belanda) menuntut agar Tentara Republik Indonesia serta seluruh rakyat mengosongkan wilayah Bandung Selatan dan menyerahkannya untuk dijadikan markas militer penjajah.

Bagi para pejuang dan warga Bandung, ini adalah pilihan yang mustahil. Melawan secara frontal berarti bunuh diri massal karena kalah persenjataan.

Namun, menyerahkan kota begitu saja sama dengan mengorbankan kehormatan bangsa. Di titik kritis inilah sebuah strategi paling ekstrem akhirnya diputuskan.

Kolonel A.H. Nasution selaku Panglima Divisi III TRI bersama para pejuang mengambil keputusan yang menggetarkan jiwa: strategi bumi hangus. Prinsipnya hanya satu, yaitu:

“Jika kami tidak boleh memiliki kota ini, maka Belanda juga tidak akan pernah bisa untuk memilikinya!”

Tepat pada 23 Maret 1946, sejarah mencatat peristiwa yang nyaris tak masuk akal. Sekitar 200.000 penduduk Bandung secara serentak membakar rumah, gedung, dan harta benda mereka sendiri.

Baca Juga: Peringatan Bandung Lautan Api Ditunda, Pemkot Bandung Persiapkan Jadwal Baru

Malam itu, langit Bandung menyala merah. Kota nan indah itu berubah menjadi lautan api dalam sekejap, tetapi di tengah kobaran tersebut aksi heroisme tidak pernah berhenti.

Dua pemuda, Mohammad Toha dan Ramdan, menyusup ke dalam gudang amunisi terbesar milik Sekutu di Dayeuhkolot.

Mengetahui tidak ada jalan keluar, mereka meledakkan gudang tersebut bersama tubuh mereka sendiri. Ribuan ton amunisi musuh akhirnya hancur lebur.

Diiringi kobaran api yang melahap kenangan hidup mereka, ratusan ribu rakyat berjalan kaki mengungsi ke pegunungan di selatan Bandung.

Mereka menangis melihat rumahnya hancur, namun dada mereka busung. Tak ada penyesalan, hanya ada kebanggaan karena berhasil menampar arogansi penjajah.

Dari sanalah lagu epik “Halo-Halo Bandung” tercipta. Bandung Lautan Api bukan tentang kekalahan, melainkan monumen abadi tentang harga diri.

Baca Juga: Di Balik Bandung Lautan Api Ada Pengorbanan Nyata yang Tidak Terlupakan

Related Post

Tinggalkan komentar