Sekitarbandung.com – Kedatangan pasukan Sekutu di Magelang awalnya disambut dengan tangan terbuka oleh pejuang Republik yang baru saja merdeka. Namun, senyum manis itu ternyata menyimpan racun.
Di belakang layar, secara diam-diam, mereka justru mempersenjatai ribuan tentara NICA untuk kembali menjajah Nusantara. Sebuah pengkhianatan yang memicu pertumpahan darah.
Ketegangan akhirnya meledak menjadi perang terbuka. Pasukan TKR dihujani serangan udara membabi buta dari pesawat-pesawat tempur Royal Air Force (RAF). Di tengah desingan peluru dan ledakan bom, terjadilah sebuah tragedi yang menyayat hati.
Letkol Isdiman, perwira paling brilian sekaligus komandan kepercayaan Kolonel Soedirman, gugur bersimbah darah di garis depan.
Kematian Isdiman membawa duka yang sangat mendalam. Namun, duka itu segera berubah menjadi kemurkaan. Kolonel Soedirman menolak untuk berdiam diri.
Meski dengan kondisi fisik yang tak lagi prima, ia memutuskan untuk turun gunung. Meninggalkan markas besarnya yang relatif aman, ia mengambil alih langsung tongkat komando menuju palagan pertempuran di Ambarawa.
Sadar bahwa persenjataan pasukannya kalah telak, Soedirman tidak menggunakan otot, melainkan otak. Ia membongkar taktik perang kuno warisan raja-raja Mataram, yaitu Gelar Supit Urang atau taktik Capit Udang.
Baca Juga: Bikin Penguasa Kolonial Ketakutan, R. M. Tirto Adhi Soerjo Justru Wafat dalam Kemiskinan
Pasukan pejuang tidak menyerang secara frontal, melainkan bergerak senyap layaknya bayangan, menjepit posisi musuh dari dua sisi secara bersamaan.
Taktik brilian itu membuahkan hasil yang mematikan. Kota Ambarawa dikepung rapat dari segala penjuru. Soedirman memutus total jalur komunikasi dan memblokade seluruh pasokan air bersih.
Bayangkan, pasukan elite pemenang Perang Dunia II kini terjebak kehausan, kelaparan, dan ketakutan di dalam neraka yang diciptakan oleh kaum pribumi.
Selama empat hari empat malam yang mencekam, gempuran artileri dan peluru tidak henti-hentinya dimuntahkan. Hingga puncaknya pada tanggal 15 Desember 1945, pertahanan pasukan Sekutu benar-benar hancur lebur.
Tidak tahan digempur habis-habisan tanpa ampun, pasukan Inggris dan Belanda akhirnya menyerah pada keadaan, melarikan diri terbirit-birit menuju Semarang dengan rasa malu.
Itu adalah sebuah kemenangan yang tidak masuk akal. Pasukan pejuang dengan seragam dan senjata seadanya sukses mempermalukan militer paling modern di masanya.
Kejeniusan taktik dan nyali baja di Ambarawa ini kini diabadikan dengan tinta emas sejarah militer, diperingati setiap tanggal 15 Desember sebagai Hari Juang Kartika TNI Angkatan Darat.
Baca Juga: Jauh Sebelum Ramai Hari Ini, Soeharto Telah Lebih Dulu Eksekusi Makan Gratis di Sekolah

