Sekitarbandung.com – Dalam sejarah kemerdekaan kita, ada satu kursi yang dibiarkan kosong dalam waktu lama. Kursi itu milik Supriyadi. Bung Karno sudah menyiapkan kursi itu untuknya sebagai Menteri Keamanan Rakyat pertama.
Namanya sudah dipanggil dan jabatan sudah tertulis. Namun, sang pemilik nama tidak pernah melangkah masuk ke istana. Ia hilang, menyisakan rindu dan misteri yang belum terpecahkan.
Supriyadi adalah Shodancho (Komandan) muda yang gagah pada awal tahun 1945. Usianya baru 22 tahun. Hidupnya sebagai perwira PETA sebenarnya terjamin.
Makan kenyang dan seragam bagus. Namun, hatinya hancur setiap melihat ke luar barak. Ia melihat bangsanya sendiri kurus kering, disiksa, dan mati perlahan sebagai Romusha. Jeritan rakyatnya menghantuinya setiap malam.
Nurani itu akhirnya meledak. Ia tak peduli pangkat dan kenyamanan. Di depan teman-temannya, ia berseru bahwa biadab membiarkan rakyat mati, sementara mereka enak-enakan menjadi tentara bentukan Jepang.
“Kita memberontak sekarang, atau mati perlahan dalam penyesalan!”
Pada 14 Februari 1945, Supriyadi menumpahkan darah. Pemberontakan PETA Blitar meletus. Itu adalah aksi nekat.
Tanpa dukungan pusat dan tanpa senjata canggih. Hanya bermodalkan keberanian segelintir anak muda yang sudah muak dengan penindasan.
Seperti yang diduga, kekuatan tidak seimbang. Pemberontakan dipadamkan. Teman-teman seperjuangan Supriyadi (seperti Muradi dkk) ditangkap.
Baca Juga: Punya Otak Luar Biasa Cerdas, R. A. Kartini Justru Dikurung Hanya untuk Menunggu Dilamar
Mereka kemudian digiring ke Pantai Ancol di Jakarta. Di sana, kepala para pemuda pemberani itu dipenggal oleh pedang algojo Jepang. Mereka gugur sebagai kusuma bangsa.
Namun, di mana Supriyadi? Ia tidak ada di barisan eksekusi itu. Kabar terakhir menyebut ia lari ke arah hutan di lereng Gunung Kelud. Setelah itu, hening.
Hutan rimba seolah menelannya bulat-bulat. Apakah ia tewas diterkam harimau? Mati kelaparan? Atau dibunuh diam-diam dan dikubur tanpa batu nisan?
Ketika Indonesia merdeka, harapan sempat muncul. “Supriyadi pasti kembali. Dia pasti jadi panglima kita,” pikir banyak orang.
Namun, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Sosoknya tidak pernah muncul sama sekali. Ayahnya terus menunggu dan rakyat terus bertanya.
Akhirnya, negara harus mengambil keputusan untuk mengikhlaskan bahwa sang pahlawan telah gugur dalam ketiadaan.
Hari ini, kita tidak tahu di mana jasadnya beristirahat. Tidak ada makam untuk ditaburi bunga. Namun, mungkin itulah takdirnya.
Supriyadi hilang dalam rimba, agar kita semua bisa menemukan jalan kemerdekaan. Terima kasih, Shodancho. Istirahatlah dengan tenang di pelukan Ibu Pertiwi.
Baca Juga: Uang Rupiah Jadi Kertas Sampah, Ingin Cari Hiburan melalui Musik Justru Berakhir Masuk Penjara

