Sekitarbandung.com – Pada tahun 1963-1965, kondisi perekonomian Indonesia sedang tidak baik-baik saja, anggaran defisit, dan uang dicetak secara terus-menerus tanpa adanya cadangan emas.
Hal tersebut dikarenakan fokus negara tersedot habis untuk membiayai konfrontasi dan beberapa proyek mercusuar, seperti Monas, Gelora Bung Karno (GBK), dan Patung Dirgantara. Inilah awal mula hiperinflasi terburuk dalam sejarah kita.
Bayangkan, inflasi mencapai 635 persen. Harga barang berubah bukan per bulan, tetapi per jam. Pagi hari harga beras Rp 200 dan sore hari bisa jadi Rp 1.000.
Ibu-ibu ke pasar harus membawa uang menggunakan karung atau tas besar, tetapi pulangnya hanya membawa belanjaan sedikit. Uang rupiah seolah tidak ada harganya alias menjadi kertas sampah.
Pemerintah pun panik. Akhirnya keluar kebijakan sanering pada Desember 1965. Uang Rp 1.000 dipotong nilainya menjadi Rp 1.
Rakyat yang tadinya mempunyai tabungan untuk membeli tanah, tiba-tiba uangnya hanya cukup untuk membeli sabun. Banyak orang kaya yang mendadak miskin dalam semalam. Stres, gila, bahkan bunuh diri.
Karena beras menjadi barang mewah yang langka, rakyat dipaksa kreatif. Mereka akhirnya makan nasi jagung atau tiwul. Bahkan, banyak yang makan bulgur (gandum kasar bantuan asing di negara asalnya yang biasa dipakai untuk pakan kuda atau ternak).
Memang sungguh ironis. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris yang subur, tetapi rakyatnya antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan jatah beras busuk.
Di tengah stres ekonomi, rakyat membutuhkan hiburan. Tetapi itu pun dilarang. Musik rock n roll (The Beatles, Elvis) dianggap “Ngak Ngik Ngok” dan budaya nekolim.
Band legendaris Koes Bersaudara (Koes Plus) dijebloskan ke penjara Glodok hanya karena menyanyikan lagu kebarat-baratan. Lengkap sudah penderitaan. Perut lapar, dompet kosong, dan hiburan dilarang.
Kondisi di dalam negeri meninggalkan luka yang mendalam. Kekacauan ekonomi inilah yang menjadi pemicu ketidakpercayaan rakyat, demonstrasi mahasiswa (Tritura), dan akhirnya runtuhnya Orde Lama.
Sejarah mengajarkan kita satu kenyataan pahit, yaitu bahwa ambisi politik yang terlalu tinggi sering kali harus dibayar mahal dengan penderitaan rakyat kecil.
Lantas sekarang pertanyaannya, apakah kamu pernah mendengarkan cerita kakek atau nenekmu tentang makan bulgur atau antre minyak tanah pada tahun 1965?
Baca Juga: Tanpa Pengadilan dan Hakim, Kisah Ribuan Preman Jalanan Dihilangkan oleh Petrus

