Kehilangan Jutaan Pengikut Setianya, Pikiran Soekarno Gelap dan Nyaris Gila di Tanah Pengasingan Ende

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1934, Belanda menyadari satu hal yang fatal, yaitu memenjarakan fisik Soekarno tidak akan mematikan idenya. Itulah mengapa mereka menggunakan taktik yang

Dicky Wicaksono

Kehilangan Jutaan Pengikut Setianya, Pikiran Soekarno Gelap dan Nyaris Gila di Tanah Pengasingan Ende
Kehilangan Jutaan Pengikut Setianya, Pikiran Soekarno Gelap dan Nyaris Gila di Tanah Pengasingan Ende

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1934, Belanda menyadari satu hal yang fatal, yaitu memenjarakan fisik Soekarno tidak akan mematikan idenya. Itulah mengapa mereka menggunakan taktik yang jauh lebih kejam.

Taktik kejam tersebut yaitu membunuh karakternya dengan kesepian yang absolut. Sang Singa Podium itu dibuang jauh ke Ende, Flores. Sebuah kota nelayan terpencil yang sangat sunyi, guna memutus total urat nadi pergerakannya.

Di Ende, Soekarno tidak dikurung di balik bui. Ia justru bebas berjalan ke mana saja yang ia mau. Namun, itulah bentuk siksaan psikologis yang paling sadis.

Sebagai pemimpin yang hidup dari energi ribuan massa, Soekarno tiba-tiba diisolasi dan tidak mempunyai panggung. Penduduk lokal dilarang keras berbicara dengannya. Ia sengaja dikucilkan di negerinya sendiri.

Taktik psikologis Belanda nyaris berhasil sempurna. Fase ini adalah masa tergelap dalam hidup Soekarno. Sang Proklamator hancur lebur secara mental dan fisik.

Ia terserang malaria parah yang menggerogoti tubuhnya. Dalam surat-suratnya, ia menuliskan rasa putus asa. Ia merasa pergerakannya telah mati dan sia-sia. Seolah sejarah telah membuang namanya untuk selamanya.

Di tengah kesepian yang nyaris membunuh kewarasannya, hanya kehadiran istrinya, Inggit Garnasih, yang menjadi jangkar. Untuk mengalihkan depresi dan pikirannya yang kusut, Soekarno melarikan diri dari realita.

Ia mulai melukis, menulis naskah tonil (sandiwara), dan menghabiskan waktu berjam-jam menatap lautan, berusaha menjaga agar kepalanya tidak benar-benar menjadi gila.

Baca Juga: Tangis Ir. Soekarno Pecah di Istana Saat Terpaksa Hukum Mati Sahabatnya Sendiri

Hingga pada suatu hari, sejarah membalikkan keadaan. Di tengah rasa frustrasi dan pengasingan batinnya, Soekarno sering duduk termenung di bawah pohon sukun.

Menghadap ke arah Teluk Ende yang luas, pikirannya perlahan menembus batas-batas keputusasaan. Ia mulai menggali kembali nilai-nilai leluhur Nusantara, meracik sebuah formula mematikan untuk melawan penjajah.

Dari titik nadir paling rendah seorang manusia, justru lahir sebuah gagasan yang paling megah. Di bawah pohon sukun itulah Soekarno merumuskan 5 butir mutiara yang kelak menyatukan ribuan pulau.

Ideologi raksasa yang kita kenal hari ini sebagai Pancasila. Sebuah pondasi kuat yang dirancang secara matang-matang bukan di istana mewah, melainkan di tanah buangan.

Sejarah mencatatkan blunder terbesar pemerintah kolonial. Belanda membuang Soekarno ke Ende untuk mematahkan jiwanya, berharap sang tokoh pergerakan itu mati membusuk dan dilupakan.

Namun ironisnya, pengasingan itu justru memberinya waktu untuk merenung dan menciptakan pondasi bagi negara Indonesia.

Sang Singa memang sempat dibungkam di ujung dunia, tetapi ia kembali membawa senjata yang menghancurkan penjajahnya.

Baca Juga: Museum dengan Sejarah Bucin, Bukti Cinta Ir. Soekarno pada Dewi Sukarno

Related Post

Tinggalkan komentar