Sekitarbandung.com – Jauh sebelum peluru dan ideologi memisahkan, mereka adalah dua pemuda yang saling mengagumi, yaitu Soekarno muda dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.
Keduanya pernah tinggal satu atap dan menjadi anak kos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Mereka pernah makan di meja yang sama, berdiskusi, dan tertawa. Tidak ada yang menyangka kelak nasib mereka akan berakhir dengan saling berhadapan.
Waktu berlalu, ideologi akhirnya memisahkan langkah mereka. Soekarno memilih jalan nasionalisme untuk memerdekakan bangsa, sementara Kartosuwiryo memimpikan sebuah negara teokrasi.
Saat RI tengah berjuang mempertahankan diri, Kartosuwiryo justru memproklamasikan Negara Islam Indonesia (DI/TII) pada tahun 1949. Sang sahabat kini resmi menjadi musuh negara.
Konflik ini memicu perang saudara yang sangat brutal. Bertahun-tahun lamanya Jawa Barat mencekam. Ribuan nyawa rakyat sipil dan prajurit melayang.
Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 1962, setelah pemburuan militer yang melelahkan, Kartosuwiryo tertangkap di kawasan Gunung Geber. Pengadilan militer pun menjatuhkan vonis mati kepadanya.
Sesuai prosedur, eksekusi mati membutuhkan persetujuan Presiden. Berkas vonis itu tiba di meja kerja Bung Karno. Di sinilah batin sang proklamator hancur berkeping-keping.
Berminggu-minggu lamanya kertas mematikan itu didiamkan. Bung Karno menolak menyentuh pena di atas mejanya. Pikirannya terus dihantui kenangan masa muda di Surabaya. Bagaimana mungkin ia membunuh saudaranya sendiri?
Baca Juga: Kondisi Negara Miskin Parah, Ir. Soekarno Justru Nekat Bangun Stadion Gunakan Uang Uni Soviet
Namun, desakan dari para jenderal militer semakin kuat. Hukum negara tidak boleh pandang bulu. Pemberontakan harus diakhiri demi keutuhan Ibu Pertiwi.
Di suatu sore, dengan tangan yang bergetar hebat, Soekarno akhirnya menggoreskan tinta di atas kertas itu.
Usai menandatanganinya, pertahanannya runtuh. Bung Karno menangis sejadi-jadinya sambil meratapi nasib sahabatnya yang berakhir sangat tragis.
Pada September 1962, regu tembak bersiap. Di sebuah pulau terpencil di Kepulauan Seribu, peluru tajam akhirnya menembus dada Kartosuwiryo. Eksekusi itu mengakhiri pemberontakan panjang DI/TII.
Selain itu, juga sekaligus menutup buku persahabatan mereka selamanya. Soekarno membuktikan ketegasannya sebagai kepala negara, namun sebagai manusia biasa, batinnya hancur.
Tragedi ini meninggalkan luka sejarah yang sangat mendalam, mengajarkan kita betapa mahalnya harga keutuhan sebuah negara.
Terkadang, seorang pemimpin dipaksa oleh takdir untuk membuat keputusan yang paling menyayat hati, yaitu menghancurkan perasaan pribadinya hingga tak bersisa.
Bahkan juga harus menyingkirkan berbagai kenangan masa lalunya demi memastikan Republik Indonesia tetap berdiri secara tegak dan kokoh.
Baca Juga: Hidup Melarat di Negeri Penjajah, Mohammad Hatta Justru Berhasil Modali Kemerdekaan Bangsa

