Sekitarbandung.com – Konsep permaculture dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari, seperti saat di dapur setelah mencuci beras sebelum ditanak.
Air sisa cucian pertama dan kedua mengandung banyak unsur hara. Daripada dibuang ke selokan, air tersebut bisa digunakan untuk menyiram tanaman.
Selain itu, ketika tetangga mempunyai pohon mangga dan di pekarangan rumah kita ada pepaya yang sudah ranum, lalu saling barter satu sama lain, hal tersebut juga merupakan contoh permaculture.
Konsep Utama Permaculture: Hutan Pangan alias Food Forest
Konsep ini sangat menarik karena cara menanam pohon dilakukan dengan mengikuti pola alam.
Ada pohon tinggi yang berfungsi sebagai kanopi, pohon rendah, semak, hingga umbi-umbian. Semua tanaman tersebut tumbuh tumpang tindih, saling melindungi, dan saling memberi nutrisi.
Di balik itu semua, ternyata desain seperti food forest tersebut sudah dilakukan berabad-abad di Nusantara melalui dua sistem legendaris:
1. Talun (Jawa Barat)
Teknik ini sudah dikenal sejak 1.500 tahun lalu pada era Tarumanagara. Sistem tersebut merupakan perpaduan tanaman tahunan seperti kayu dengan tanaman musiman seperti padi, jagung, atau sayuran.
2. Parak (Sumatra Barat)
Cara ini berfungsi sebagai “sabuk hijau” atau zona penyangga antara pemukiman (nagari) dan hutan belantara (rimbo) yang diatur dalam sistem adat yang ketat.
Baca Juga: Bukan hanya sekadar Lauk, Oncom Ternyata Teknologi “Ajaib” Sunda yang Diakui Dunia
Bukan hanya Sekadar Cara Bertani
Permaculture bukan hanya sekadar cara bertani, tetapi juga mempunyai landasan moral yang membuat konsep ini tetap relevan hingga sekarang.
1. Earth Care (Peduli Bumi)
- Memastikan tanah, air, dan keanekaragaman hayati di dalamnya tetap sehat.
2. People Care (Peduli Manusia)
- Memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti sandang, pangan, dan papan secara adil.
3. Fair Share (Berbagi Adil)
- Mengambil secukupnya dan mengembalikan kelebihan kepada alam atau orang lain.
Dalam Suku Baduy di Banten, terdapat prinsip “Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak” yang berarti gunung jangan dihancurkan dan lembah jangan dirusak.
Suku Kajang di Bulukumba juga menjaga hutan melalui konsep Pasang Ri Kajang yang dianggap sebagai bagian dari nyawa kehidupan mereka.
Jika diperhatikan, konsep dan prinsip seperti itu merupakan praktik tertinggi dari earth care dalam permaculture.
Subak di Bali
Sementara itu, di Bali terdapat sistem Subak. Ini bukan hanya tentang irigasi, tetapi juga ikatan sosial dan spiritual. Air dialirkan dari hulu ke hilir sedemikian rupa agar semua petani mendapatkan bagian yang adil.
Tidak ada yang serakah karena semua menyadari bahwa jika satu ekosistem rusak, maka semua akan menanggung akibatnya, yaitu gagal panen.
Dunia mungkin terpukau saat melihat para ahli berhasil menyulap padang gurun menjadi oase hijau yang subur melalui permaculture.
Namun, setelah menoleh ke pekarangan rumah sendiri, kita baru menyadari bahwa leluhur Nusantara ternyata sudah melakukannya sejak zaman dahulu.
Baca Juga: Total Produksi Telur sebagai Sumber Protein Hewani Paling Terjangkau di Kota Bandung

