Berani Menentang Tambang Ilegal, Petani di Lumajang ini justru Tewas Dikeroyok Preman Suruhan Kepala Desa

Sekitarbandung.com – Pada tahun 2015, Desa Selok Awar-Awar di Lumajang, Jawa Timur, memiliki panorama alam yang indah dan kaya akan sumber daya pesisir. Namun, suasana

Dicky Wicaksono

Berani Menentang Tambang Ilegal, Petani di Lumajang ini justru Tewas Dikeroyok Preman Suruhan Kepala Desa
Berani Menentang Tambang Ilegal, Petani di Lumajang ini justru Tewas Dikeroyok Preman Suruhan Kepala Desa

Sekitarbandung.com – Pada tahun 2015, Desa Selok Awar-Awar di Lumajang, Jawa Timur, memiliki panorama alam yang indah dan kaya akan sumber daya pesisir.

Namun, suasana desa perlahan berubah akibat maraknya aktivitas tambang pasir ilegal di kawasan tersebut.

Alat berat terus mengeruk wilayah pesisir, merusak lahan pertanian milik warga, serta meninggalkan lubang-lubang galian yang mengancam mata pencaharian masyarakat sekitar.

Sebagian besar warga memilih untuk diam karena takut, sebab praktik tambang ilegal itu diduga mendapat perlindungan dari aparat desa dan sejumlah preman bayaran. Akan tetapi, hal berbeda ditunjukkan oleh Salim Kancil.

Sebagai petani yang lahannya ikut terdampak kerusakan, ia merasa tidak tinggal diam. Salim berada di barisan depan untuk menyuarakan penolakan dan mengajak warga menghentikan aktivitas tambang ilegal tersebut.

Keberanian Salim Kancil bersama rekan-rekannya, termasuk Tosan, membuat kelompok tambang ilegal merasa terancam. Keuntungan besar yang mereka dapatkan pun terancam hilang.

Bukannya mendengarkan aspirasi masyarakat, kepala desa saat itu justru diduga menggerakkan kelompok preman bernama “Tim 12” untuk memberikan intimidasi kepada siapa pun yang berani melawan.

Pada Sabtu pagi, 26 September 2015, sekelompok preman bersenjata mendatangi rumah Salim. Di hadapan keluarganya yang histeris, ia diseret secara paksa dan dibawa menuju Balai Desa.

Baca Juga: Niat Bunuh Soekarno, Granat ini Justru Renggut Nyawa Anak-anak Tidak Berdosa

Di tempat yang seharusnya menjadi pusat pelayanan masyarakat tersebut, Salim menerima perlakuan yang sangat kejam. Ia dianiaya tanpa belas kasihan oleh puluhan orang.

Pada hari itu, Salim Kancil menghembuskan napas terakhirnya dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Rekan seperjuangannya, Tosan, juga mengalami penganiayaan berat hingga nyaris kehilangan nyawa.

Mereka dijadikan contoh bahwa itulah risiko besar yang harus dihadapi ketika rakyat kecil mencoba melawan kepentingan para penguasa lokal.

Peristiwa tragis tersebut dengan cepat menyebar dan memicu kemarahan publik di berbagai daerah. Perhatian masyarakat Indonesia pun tertuju ke Lumajang.

Desakan publik yang semakin besar akhirnya membuat aparat penegak hukum turun tangan. Kepala desa bersama puluhan pelaku pengeroyokan akhirnya ditangkap dan diproses secara hukum.

Salim Kancil memang telah tiada, tetapi keberaniannya berhasil menghentikan aktivitas tambang ilegal tersebut. Namanya pun dikenang sebagai simbol perjuangan lingkungan.

Selain itu, kisahnya juga menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga alam sering kali harus dibayar mahal oleh rakyat kecil yang berani melawan keserakahan dan kekuasaan.

Baca Juga: Tahu Terlalu Banyak Rahasia Istana, Tangan Kanan Soekarno ini Dipenjara Tanpa Pernah Disidang

Related Post

Tinggalkan komentar