Sekitarbandung.com – Perguruan Cikini (Percik) di Jakarta sedang menggelar perayaan ulang tahun ke-15 yang meriah pada Sabtu (30/11/1957). Ratusan anak sekolah, orang tua, dan guru berkumpul penuh tawa, termasuk Soekarno.
Soekarno saat itu hadir bukan dalam kapasitas kenegaraan, melainkan sebagai seorang ayah karena putra-putrinya, yaitu Guntur dan Megawati, bersekolah di sana.
Ketika Soekarno hendak meninggalkan lokasi pada pukul 20.55 WIB, suasana riang mendadak berubah menjadi mencekam. Dari kegelapan, beberapa granat dilemparkan ke arah mobilnya.
Ledakan dahsyat bersahut-sahutan memecah malam. Kaca pecah, tenda roboh, dan kepanikan yang sangat luar biasa melanda kerumunan anak-anak sekolah tersebut.
Tentu target utama ledakan tersebut yaitu Soekarno. Namun, kesigapan para ajudan, terutama Mayor Sudiyo, berhasil menyelamatkan nyawa sang presiden.
Soekarno segera didorong tiarap, dilindungi dengan tubuh para pengawalnya, dan diselundupkan ke rumah salah satu warga di seberang sekolah sebelum akhirnya dievakuasi dengan aman ke Istana.
Soekarno selamat tanpa luka berarti, tetapi harga yang dibayar sangatlah mahal. Granat yang meleset itu meledak di tengah kerumunan sipil.
Baca Juga: Tahu Terlalu Banyak Rahasia Istana, Tangan Kanan Soekarno ini Dipenjara Tanpa Pernah Disidang
Halaman sekolah berubah menjadi lautan darah. Anak-anak yang beberapa menit lalu tertawa riang kini tergeletak tidak bernyawa. Jeritan histeris para ibu yang mencari anak-anaknya menggema di malam itu.
Tercatat 9 nyawa melayang dan sedikitnya 100 orang menderita luka berat hingga cacat permanen. Ada satu hal yang sangat menyayat hati.
Mayoritas korban yaitu anak-anak sekolah dasar, ibu hamil, dan warga sipil biasa yang sama sekali tidak mengerti urusan politik. Mereka tewas secara tragis hanya karena berada di tempat dan waktu yang salah.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi aparat untuk menangkap para pelaku. Mereka adalah komplotan ekstremis sayap kanan yang terhubung dengan jaringan anti-Soekarno.
Demi ambisi ideologis, mereka membutakan mata dan nurani sehingga rela melempar granat ke kerumunan anak sekolah demi membunuh satu orang.
Tragedi Cikini menjadi noda hitam yang membuktikan betapa kejamnya ekstremisme politik. Darah anak-anak Cikini yang membasahi aspal malam itu adalah pengingat abadi.
Pengingatnya yaitu bahwa dalam setiap pertarungan memperebutkan kekuasaan yang buta arah, rakyat kecil dan anak-anak tidak berdosa selalu berakhir menjadi tumbal utamanya.

