Tahu Terlalu Banyak Rahasia Istana, Tangan Kanan Soekarno ini Dipenjara Tanpa Pernah Disidang

Sekitarbandung.com – Ketika berbicara tentang ring satu Soekarno, sejarah sering menyoroti para jenderal atau politisi flamboyan. Namun, ada satu sosok yang bergerak dalam senyap, yaitu

Dicky Wicaksono

Tahu Terlalu Banyak Rahasia Istana, Tangan Kanan Soekarno ini Dipenjara Tanpa Pernah Disidang
Tahu Terlalu Banyak Rahasia Istana, Tangan Kanan Soekarno ini Dipenjara Tanpa Pernah Disidang

Sekitarbandung.com – Ketika berbicara tentang ring satu Soekarno, sejarah sering menyoroti para jenderal atau politisi flamboyan. Namun, ada satu sosok yang bergerak dalam senyap, yaitu Oei Tjoe Tat.

Diangkat sebagai Menteri Negara pada era Demokrasi Terpimpin, politisi keturunan Tionghoa ini bukan menteri biasa. Ia adalah “kartu as” Soekarno untuk urusan-urusan yang tidak bisa diselesaikan di meja resmi.

Di tengah memanasnya suhu politik dunia dan era “Konfrontasi” dengan Malaysia, Soekarno membutuhkan sosok pelobi tingkat tinggi. Oei Tjoe Tat kerap dikirim ke luar negeri dengan status rahasia.

Tugasnya yaitu melakukan diplomasi pintu belakang, membangun jaringan intelijen, dan mengamankan posisi Indonesia di mata negara-negara sekutu tanpa memicu konflik terbuka.

Kedekatannya dengan Soekarno membuat Oei memiliki akses absolut terhadap informasi intelijen tingkat tinggi. Ia tahu siapa kawan sejati dan siapa pengkhianat di dalam istana.

Selain itu, ia juga mengetahui intrik politik yang sedang digarap oleh kekuatan asing. Pengetahuan ini menjadi senjata yang sangat mematikan, namun sekaligus menjadikannya target utama bagi pihak-pihak yang ingin menjatuhkan sang presiden.

Badai politik 1965 mengubah segalanya. Ketika kekuasaan Soekarno perlahan dilumpuhkan oleh rezim Orde Baru, para loyalis ring satu mulai diburu.

Sebagai tangan kanan rahasia yang dicap sebagai sayap kiri, Oei Tjoe Tat ditangkap. Tidak ada perlindungan baginya. Sosok yang dulu keluar masuk istana dan istana negara asing ini kini berujung di ruang interogasi yang dingin.

Baca Juga: Hendak Bersaksi di Sidang PBB, Gadis SMA ini Justru Dihabisi demi Menutupi Aib Rahasia Negara

Orde Baru mengetahui betapa bahayanya informasi yang ada di kepala Oei. Ia dipenjara selama lebih dari sepuluh tahun tanpa pernah melewati proses peradilan yang sah.

Tujuannya hanya satu, yaitu memaksanya tutup mulut. Selama bertahun-tahun ia diisolasi dari dunia luar, sementara namanya perlahan dihapus dari buku-buku sejarah resmi sekolah.

Meski raganya dikurung, ingatannya tidak bisa dibunuh. Bertahun-tahun setelah dibebaskan, pada tahun 1995 tepat di HUT RI ke-50, terbitlah “Memoar Oei Tjoe Tat”. Buku ini bak ledakan bom.

Hal tersebut dikarenakan buku tersebut membongkar intrik kotor transisi kekuasaan pada tahun 1965. Panik dengan fakta yang terungkap, rezim Orde Baru langsung memblokir memoar tersebut dan melarang peredarannya di seluruh penjuru negeri.

Oei Tjoe Tat wafat pada tahun 1996 dengan membawa serta sisa-sisa rahasia negara di kepalanya. Ia dianggap sebagai anomali sejarah.

Ia merupakan seorang menteri yang mengabdikan hidup dan kebebasannya demi republik, namun diperlakukan layaknya penjahat paling berbahaya.

Kisahnya adalah bukti nyata bahwa dalam politik, kesetiaan sering kali dibayar dengan pengasingan.

Baca Juga: Sebelum Tragedi Malari Tahun 1974, Ratusan Mahasiswa Turun ke Jalan Merazia Pejabat Berperut Buncit

Related Post

Tinggalkan komentar