Sekitarbandung.com – Pada pertengahan tahun 2000, para intelijen dan jenderal melapor kepada Presiden Gus Dur bahwa di Papua sedang terjadi pengibaran bendera Bintang Kejora di berbagai tempat.
Gus Dur pun merespons dengan santai: “Masih ada bendera merah putihnya?”
Intelijen: “Masih, Presiden!”
Gus Dur: “Anggap saja Bintang Kejora itu umbul-umbul.”
Jawaban selengean Gus Dur seperti itu membuat elite politik Jakarta saat itu menganggapnya tidak masuk akal. Hal ini dinilai berbahaya karena dapat mengganggu stabilitas nasional.
Menurut para pengamat, justru di sana terdapat strategi psikologi massa cerdas yang sedang dimainkan oleh Gus Dur.
Bendera Bintang Kejora Disakralkan
Selama puluhan tahun masa Orde Baru, bendera Bintang Kejora disakralkan karena dilarang keras. Semakin diburu, maka dampaknya semakin besar dalam membakar semangat perlawanan.
Gus Dur memotong rantai kemarahan tersebut menggunakan pendekatan desakralisasi dengan menurunkan makna simbol yang ditakuti oleh Jakarta menjadi sekadar aksesori budaya adat.
Baca Juga: Puluhan Tahun Sangat Angker, Gus Dur Justru Bebaskan Warga Tiduran di Dalam Istana
Gus Dur memahami bahwa luka puluhan tahun di Papua tidak akan sembuh dengan laras senapan. Sebagai Presiden, tindakan pun diambil, yaitu sebagai berikut:
- Mengembalikan nama “Papua” dan menghapus nama Irian Jaya untuk mengembalikan martabat mereka.
- Mendanai Kongres Rakyat Papua dari kantong bantuan presiden agar mereka bisa bebas bicara dan berpendapat.
- Menolak mencap tokoh Papua sebagai kriminal, tetapi memperlakukan mereka sebagai kepala suku yang terhormat.
Dianggap Terlalu Berkompromi
Namun, pendekatan humanis dan radikal ala Gus Dur tersebut dianggap sebagai “terlalu berkompromi” oleh Jakarta.
Elite militer dan politik memandang Gus Dur terlalu lembek dalam menghadapi potensi separatisme.
Sikap radikal Gus Dur membuat para jenderal dan elite politik di Jakarta meradang sambil menggunakan isu ini untuk menyudutkannya.
Kebijakan merangkul Papua tersebut menjadi salah satu bahan bakar politik yang berujung tragis pada Juli 2001, yaitu Gus Dur dimakzulkan dari kursi kepresidenan.
Dengan kata lain, saat elite Jakarta melengserkannya, warga Papua justru menangisinya.

