Sekitarbandung.com – Setuju tidak kalau kata “OK” terasa seperti tombol skip? Begitu diucapkan, perdebatan panjang di chat bisa langsung berakhir seketika. Namun, dari mana sebenarnya asal-usul kata ini?
Berawal dari Lelucon
Dua huruf paling populer ini berawal dari lelucon bahasa slang di Boston, Amerika Serikat, sekitar tahun 1830-an.
Saat itu sedang ada tren menyingkat frasa dengan ejaan yang sengaja dibuat salah.
Frasa “All Correct” dipelesetkan menjadi “Oll Korrect”, lalu disingkat menjadi “O.K.”
Pada masa itu, koran Boston Morning Post juga sedang terlibat saling sindir dan ejek dengan media pesaingnya.
Dalam salah satu artikelnya, koran tersebut membanggakan bahwa semua urusannya telah selesai atau “All Correct”.
Ejaan frasa tersebut sengaja dipelesetkan menjadi “Oll Korrect” dan disingkat menjadi “O.K.” Tidak disangka, istilah ini justru mendunia.
Baca Juga: Gerakan Partai Kecoa, Saat Sindiran Berubah Jadi Gerakan Anak Muda India
Penemuan Paling Sukses
Ahli bahasa, Allan Metcalf, menyebut “OK” sebagai salah satu penemuan paling sukses dalam bahasa Inggris.
Kata ini semakin diakui dan mendunia karena dua alasan, yaitu digunakan sebagai slogan politik pada tahun 1840 serta huruf “O” dan “K” merupakan kombinasi kode morse yang efisien dan murah untuk diketik melalui mesin telegraf lintas negara.
Fungsinya Berubah Total
Namun saat ini, fungsinya telah berubah total. Dahulu, “OK” diciptakan sebagai validasi bahwa semua urusan benar-benar telah selesai dikerjakan.
Saat ini, kita justru sering menggunakan kata “OK” ketika keadaan sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Menghindari masalah dengan berlindung di balik kata “OK” tidak serta-merta menyelesaikan inti persoalan.
Secara psikologis, memaksakan diri mengatakan “OK” dapat diibaratkan seperti menimbun emosi negatif yang lama-kelamaan akan menumpuk, berubah menjadi stres kronis, dan berujung pada burnout.
Baca Juga: Kemenyan dari Pedalaman Nusantara Jadi Bahan Penting Parfum Mewah Paris

