Sekitarbandung.com – Tepat di bagian dasar Candi Borobudur, terdapat satu bab sejarah yang sengaja dikubur rapat-rapat dan dibuat tersembunyi oleh lapisan batu luarnya.
Alasan Disembunyikan
Saat pembangunan pada abad ke-8, para arsitek Kerajaan Syailendra mengambil sebuah keputusan besar.
Mereka mendatangkan 12 ribu meter kubik batu andesit tambahan yang digunakan khusus untuk membangun sabuk pelindung di sekeliling fondasi.
Sabuk batu inilah yang menutupi dan menyembunyikan rapat 160 panel relief tersebut.
Ujung-ujungnya, keputusan menutup relief ini menyisakan dua teori besar di kalangan para arkeolog. Lantas, teori-teori apa saja yang dimaksud tersebut?
1. Krisis Arsitektur
Menumpuk jutaan ton batu di atas sebuah bukit menjadi beban masif yang membuat fondasi awal candi perlahan amblas dan bergeser.
Karena mempunyai potensi runtuh di tengah proyek, para arsitek akhirnya harus membuat pilihan pahit.
Suka atau tidak suka, 160 panel mahakarya tersebut terpaksa dikorbankan.
Sabuk batu raksasa pun dibangun sebagai “penahan darurat” agar Borobudur tetap bisa tegak berdiri.
Baca Juga: Legenda Asmara Beda Agama, Candi Plaosan di Jawa Tengah yang Dibangun karena Cinta
2. Sensor Budaya
Pemuka agama di era Mataram Kuno mungkin menyadari bahwa visualisasi dosa, nafsu, dan kekejaman di panel bawah terlalu ekstrem dan vulgar untuk ukuran sebuah tempat suci.
Jadi, penimbunan itu diduga merupakan bentuk “sensor” fisik agar umat yang datang bisa langsung fokus pada pencerahan spiritual di tingkat atas.
Teori Mana yang Benar?
Petunjuk terkuat terdapat pada panel terakhir, yaitu panel ke-160.
Para arkeolog menemukan fakta bahwa pahatan pada panel tersebut belum selesai 100 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa penimbunan fondasi kemungkinan dilakukan secara tergesa-gesa.
Bisa jadi krisis amblasnya fondasi memang benar-benar terjadi sebelum relief sempat diselesaikan.
Jika relief itu kini terbenam di dalam tumpukan batu dinding sabuk pengaman candi, lalu bagaimana kita bisa melihat dan mempelajari relief-relief tersebut?
Fotograder Ikonik
Kita beruntung karena memiliki seorang fotografer bernama Kassian Cephas.
Pada tahun 1890, fotografer lokal tersebut ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memotret seluruh 160 panel yang sempat digali sementara sebelum akhirnya ditimbun kembali seperti semula.
Melalui jepretan hitam putihnya, satu-satunya “salinan” dari buku terlarang Borobudur berhasil diselamatkan.
Berkat dokumentasi tersebut, kita masih dapat mempelajari bab rahasia itu hingga hari ini melalui museum.
Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa 1 Juni Ditetapkan sebagai Hari Pancasila, Berawal dari Sidang BPUPKI

