Sekitarbandung.com – Pada abad ke-9, Jawa Tengah menjadi panggung persaingan dua wangsa besar. Wangsa Sanjaya menganut Hindu Siwa, sedangkan Wangsa Syailendra berpegang pada ajaran Buddha Mahayana.
Namun, di tengah persaingan kekuasaan kedua wangsa tersebut, lahirlah sebuah kisah romansa yang melegenda. Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya jatuh hati dan menikahi Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra.
Love Language yang Beda
Jika love language pada masa sekarang mungkin berupa pemberian hadiah mewah, maka Rakai Pikatan menunjukkan cinta dengan cara yang sangat berbeda.
Meski berstatus sebagai raja Hindu, ia justru membangun Candi Plaosan, sebuah tempat ibadah Buddha yang megah.
Hal tersebut menjadi pesan kuat bahwa keyakinan sang istri memiliki tempat yang sangat terhormat, baik di hatinya maupun di wilayah kekuasaannya.
Terekam Jelas dalam Data Arsitektur
Cinta mereka juga terekam jelas dalam unsur arsitektur bangunannya. Fasad dan struktur tubuh Candi Plaosan dibuat ramping dan menjulang, yang merupakan ciri khas arsitektur candi Hindu.
Namun, jika melihat bagian puncaknya, candi ini tidak menggunakan mahkota Ratna khas Hindu, melainkan dimahkotai susunan stupa Buddha.
Romansa tersebut semakin terasa saat melihat kompleks Plaosan Lor yang memiliki dua candi utama kembar.
Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa 1 Juni Ditetapkan sebagai Hari Pancasila, Berawal dari Sidang BPUPKI
Data Arkeologis
Berdasarkan pemetaan arkeologis, relief pada candi sebelah selatan didominasi figur laki-laki yang diyakini merepresentasikan Rakai Pikatan.
Sementara itu, candi di sebelah utara didominasi figur perempuan yang diyakini merepresentasikan Pramodhawardhani.
Dalam kompleks candi kembar ini, tidak ada satu pihak yang lebih mendominasi. Keduanya berdiri sejajar, setara, dan saling melengkapi satu sama lain.
Wangsa Sanjaya dan Syailendra memang telah lama runtuh, tetapi pesan toleransi yang diwariskan melalui Candi Plaosan tidak boleh ikut terkubur. Menjaga warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama.
Saat ini, pemugaran kompleks Candi Plaosan terus dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari warga, Badan Pelestarian Kebudayaan, pemerintah daerah, hingga pihak swasta seperti Djarum Foundation.
Baca Juga: Kisah Pilu Sang Perancang Garuda Pancasila, Dituduh Terlibat dalam Kudeta

