sekitarbandungcom – Siklon Tropis Surigae kembali menjadi perhatian setelah menguat hingga kategori 2 di wilayah Laut Filipina.
Sistem ini berada di luar area pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, tetapi pergerakannya tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi angin dan gelombang di sejumlah perairan Indonesia.
Siklon Tropis Surigae Menguat dan Masuk Kategori 2
Berdasarkan pembaruan informasi BMKG pada 25 September 2026 pukul 07.00 WIB, Siklon Tropis Surigae telah menguat menjadi kategori 2.
Sistem tersebut sebelumnya berkembang dari Bibit Siklon Tropis 91W dan mencapai status siklon tropis pada 23 September 2026 pukul 19.00 WIB.
Saat penguatan tersebut, Surigae berada di Laut Filipina, di sebelah utara Papua Barat, dan bergerak ke arah barat laut.
BMKG menyebut kecepatan angin maksimum sistem masih diprakirakan meningkat dalam 24 jam setelah pembaruan tersebut.
Penguatan siklon tropis berkaitan dengan kondisi atmosfer dan laut yang mendukung perkembangan sistem.
Namun, informasi mengenai perubahan intensitas harus tetap mengikuti pembaruan resmi karena posisi, kekuatan, dan arah pergerakan siklon dapat berubah dari waktu ke waktu.
Baca juga: Banjir Bandung Setelah Hujan, Margacinta Jadi Salah Satu Titik yang Tergenang
BMKG Pantau Pergerakan Siklon Surigae
BMKG melalui TCWC Jakarta melakukan pemantauan terhadap siklon tropis menggunakan berbagai data pengamatan.
Pemantauan mencakup posisi sistem, arah gerak, kecepatan angin, tekanan udara, serta kemungkinan dampaknya terhadap wilayah Indonesia. Informasi mengenai sistem siklon juga dapat dilihat melalui laman Siklon Tropis BMKG.
Dalam pembaruan 25 September, Surigae telah keluar dari Area of Monitoring TCWC Jakarta.
Karena itu, informasi tersebut menjadi pembaruan terakhir TCWC Jakarta mengenai sistem Surigae.
Meski demikian, BMKG tetap menyampaikan informasi mengenai pengaruh sistem terhadap kondisi cuaca dan perairan Indonesia.
Perubahan arah atau kekuatan siklon dapat memengaruhi pola angin dan gelombang.
Masyarakat perlu menggunakan informasi resmi BMKG sebagai acuan, terutama ketika merencanakan aktivitas di wilayah pesisir dan laut.
Dampak Siklon Surigae terhadap Perairan Indonesia
Salah satu pengaruh yang perlu diperhatikan adalah peningkatan tinggi gelombang.
Berdasarkan informasi BMKG yang diberitakan pada 24 September, aktivitas Surigae berpotensi menghasilkan gelombang dengan tinggi 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah perairan Indonesia bagian timur.
Wilayah yang disebut antara lain Perairan Kepulauan Talaud, Perairan Kepulauan Sangihe, Laut Maluku, serta Samudra Pasifik utara Maluku dan Papua.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bagi aktivitas pelayaran, penangkapan ikan, maupun kegiatan masyarakat di sekitar pesisir.
Gelombang laut tidak hanya dipengaruhi oleh keberadaan siklon, tetapi juga oleh pola angin dan kondisi atmosfer di wilayah sekitarnya.
Karena itu, informasi gelombang perlu dilihat bersama prakiraan maritim terbaru dan tidak hanya berdasarkan keberadaan Surigae.
Perlu dipahami bahwa status kategori 2 menggambarkan kekuatan sistem siklon, bukan berarti seluruh wilayah Indonesia mengalami kondisi berbahaya secara bersamaan.
Dampak setiap daerah bergantung pada jarak dari pusat siklon, arah pergerakan, pola angin, serta kondisi laut setempat.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu menyamakan kondisi di satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Pemantauan berbasis lokasi tetap penting karena peringatan gelombang dikeluarkan untuk perairan tertentu dan memiliki periode berlaku yang berbeda.
Informasi resmi juga membantu masyarakat membedakan antara kondisi yang sudah teramati dan potensi yang masih berupa prakiraan.
Pembaruan resmi perlu menjadi rujukan utama agar masyarakat tidak mengambil keputusan berdasarkan unggahan media sosial yang belum terverifikasi sepenuhnya.
Wilayah Perairan yang Berpotensi Mengalami Gelombang Tinggi
Potensi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter menjadi perhatian terutama di wilayah perairan Indonesia bagian timur yang berada dekat dengan pengaruh sistem Surigae.
Perairan Kepulauan Talaud dan Sangihe, Laut Maluku, serta kawasan Samudra Pasifik utara Maluku dan Papua termasuk wilayah yang perlu mengikuti perkembangan informasi maritim.
Kondisi gelombang dapat berubah mengikuti pergerakan sistem dan pola angin.
Oleh sebab itu, tinggi gelombang pada suatu wilayah tidak dapat dianggap tetap sepanjang hari.
Nelayan dan pengguna kapal perlu memeriksa prakiraan terbaru sebelum berangkat.
Selain tinggi gelombang, kecepatan angin juga menjadi faktor penting dalam keselamatan pelayaran.
Angin yang menguat dapat membuat permukaan laut lebih bergejolak dan menyulitkan aktivitas kapal berukuran kecil.
Imbauan BMKG bagi Masyarakat dan Pengguna Transportasi Laut
Masyarakat pesisir, nelayan, dan pengguna transportasi laut perlu memperhatikan informasi cuaca serta peringatan gelombang yang diterbitkan BMKG.
Informasi tersebut dapat berubah sesuai perkembangan atmosfer, sehingga pengecekan berkala diperlukan sebelum melakukan aktivitas di laut.
Nelayan sebaiknya mempertimbangkan kondisi angin dan gelombang sebelum melaut, khususnya apabila menggunakan kapal kecil.
Pengelola pelayaran juga perlu menyesuaikan kegiatan dengan informasi keselamatan maritim yang berlaku.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak memaksakan aktivitas di laut ketika kondisi cuaca memburuk.
Informasi mengenai siklon, gelombang, dan cuaca maritim dapat dipantau melalui peringatan gelombang tinggi BMKG agar keputusan di lapangan didasarkan pada data terbaru.
Baca juga: Penataan Lingkungan Braga, 19 Kios Dibongkar dan 47 PKL Ditata Agar Lebih Tertib

