sekitarbandungcom – Pameran Milestone Bandung #3 menghadirkan kembali cerita tentang taman dan ruang terbuka hijau yang menjadi bagian dari perjalanan Kota Bandung.
Pameran bertajuk “Semangat Bandung Kota Kembang yang Tidak Pernah Layu” tersebut dibuka di Microlibrary Asia Afrika pada 5 Oktober 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-216 Kota Bandung.
Pameran ini mengajak masyarakat melihat perkembangan taman Bandung dari masa kolonial hingga kondisi saat ini.
Materi yang ditampilkan tidak hanya memperlihatkan perubahan fisik ruang hijau, tetapi juga mengangkat cerita yang berkaitan dengan identitas kota.
Pameran Milestone Bandung #3 juga menjadi ruang edukasi mengenai toponimi berbagai taman di Kota Bandung.
Melalui informasi mengenai nama dan perjalanan taman, masyarakat dapat mengenal keterkaitan antara ruang publik, sejarah kawasan, serta memori yang berkembang di tengah warga.
Baca juga: Parkir Bus Bandung Rp65.000 Viral, Farhan Tegaskan Pungli Akan Ditindak
Pameran Milestone Bandung #3 Telusuri Sejarah Taman Kota
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung Dewi Kania Sari menjelaskan bahwa Pameran Milestone merupakan agenda tahunan yang mulai diselenggarakan pada 2025.
Pada 2026, kegiatan tersebut dikembangkan menjadi dua kali dalam setahun sebagai respons terhadap antusiasme masyarakat terhadap edukasi sejarah Kota Bandung.
Pada penyelenggaraan ketiga, tema yang dipilih adalah “Semangat Bandung Kota Kembang yang Tidak Pernah Layu”.
Tema tersebut menjadi dasar penyajian materi mengenai sejarah taman-taman Kota Bandung, mulai dari masa kolonial sampai perkembangan terkini.
Pameran awalnya direncanakan berlangsung selama dua minggu hingga 18 Oktober 2026. Namun, penyelenggara membuka kemungkinan memperpanjang waktu menjadi tiga minggu apabila antusiasme masyarakat tinggi.
Republika melaporkan pameran digelar di Microlibrary Asia Afrika, kawasan Alun-alun Kota Bandung. Arsip dan foto yang ditampilkan menjadi sarana untuk melihat perubahan wajah kota serta perjalanan taman dan ruang terbuka hijau dalam rentang waktu yang panjang.
Baca juga: Pemkot Bandung Targetkan 435.416 KK Terdaftar Perlinsos hingga Desember 2026
Pameran Milestone Bandung #3 Libatkan Berbagai Pihak
Pameran Milestone Bandung #3 tidak hanya menghadirkan arsip sejarah, tetapi juga melibatkan berbagai pihak dalam pengembangan materinya.
Perguruan tinggi, komunitas, akademisi, dan pelaku kreatif ikut berkolaborasi dalam penyelenggaraan pameran.
Kolaborasi tersebut menghadirkan penelitian dan karya yang berkaitan dengan taman, arsitektur, lingkungan, serta ruang publik.
Pameran juga menampilkan pemanfaatan teknologi pemindaian tiga dimensi taman-taman di Kota Bandung.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat membuka pameran menekankan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik.
Menurutnya, pengetahuan, kreativitas, kritik, serta suara masyarakat juga perlu menjadi bagian dalam proses pembangunan.
Farhan turut menyoroti pentingnya ruang terbuka publik yang sehat dan layak di tengah keterbatasan lahan serta kepadatan permukiman.
Keberadaan ruang publik, menurutnya, berkaitan dengan kenyamanan, kesehatan, dan interaksi sosial masyarakat.
Sejarah Taman Jadi Bagian Identitas Bandung
Pameran Milestone Bandung #3 memperlihatkan bahwa taman tidak hanya dapat dipandang sebagai ruang hijau atau elemen penghias kota.
Arsip dan dokumentasi menempatkan taman sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan identitas Bandung.
Pembahasan mengenai toponimi juga memperkuat hubungan antara nama taman dan sejarah kawasan. Sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung telah menggelar kegiatan “Ngobrol di Museum” yang membahas toponimi taman dan jalan.
Kajian tersebut antara lain membahas sejarah penamaan ruang publik serta keterkaitannya dengan memori kolektif masyarakat.
Melalui Pameran Milestone Bandung #3, masyarakat mendapat kesempatan untuk melihat kembali perjalanan kota melalui taman-taman yang berada di dalamnya.
Penyajian arsip, foto, penelitian, dan karya kreatif membuat sejarah ruang publik dapat dikenalkan melalui pendekatan yang lebih beragam.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa edukasi sejarah dapat berjalan berdampingan dengan pembahasan mengenai lingkungan, arsitektur, dan tata ruang.
Dengan demikian, taman menjadi pintu masuk untuk memahami perubahan Kota Bandung dari masa ke masa.
Pameran yang berlangsung hingga 18 Oktober 2026 tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal kembali cerita di balik ruang publik Kota Bandung.
Pameran Milestone Bandung #3 pada akhirnya menjadi ruang untuk merawat ingatan kota. Sejarah taman, toponimi, arsip, dan perkembangan ruang hijau yang dipamerkan membantu masyarakat melihat bahwa identitas Bandung terbentuk melalui perjalanan panjang yang terus berkembang hingga kini sebagai bagian sejarah kota.
Sumber: humas_bandungVerified

