Sekitarbandung.com – Pada akhir dekade 1970-an, konflik yang terjadi di Timor Leste meninggalkan jejak kemanusiaan yang panjang, salah satunya melalui kisah anak-anak yang dipisahkan dari tanah kelahirannya.
Di tengah situasi perang dan instabilitas politik, ratusan anak Timor Leste dibawa ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk ke Pulau Jawa, dengan dalih penyelamatan dan pendidikan.
Sebagian anak-anak tersebut ditempatkan di bawah pengelolaan yayasan-yayasan tertentu. Namun, dalam praktiknya, banyak dari mereka justru kehilangan identitas asli.
Nama, asal-usul keluarga, hingga latar belakang kebudayaan mereka diubah atau dihapus, membuat anak-anak ini tumbuh tanpa mengetahui jati diri sebenarnya.
Proses pemindahan anak-anak Timor Leste ini sering kali dilakukan tanpa persetujuan jelas dari orang tua atau keluarga mereka.
Dalam kondisi konflik, banyak orang tua yang terpisah, meninggal dunia, atau tidak memiliki kekuatan untuk menolak keputusan aparat maupun lembaga yang berwenang saat itu.
Anak-anak tersebut kemudian dibesarkan sebagai warga Indonesia, dengan identitas baru yang melekat hingga dewasa.
Seiring berjalannya waktu, sebagian dari mereka mulai menyadari adanya kejanggalan dalam identitas diri.
Cerita asal-usul yang tidak konsisten, dokumen yang minim, hingga ingatan masa kecil tentang bahasa dan budaya Timor Leste menjadi petunjuk awal bahwa ada bagian hidup mereka yang hilang.
Baca Juga: Kerja Sama CSC Timor Leste & IAPA: Dorong Tata Kelola Modern
Namun, upaya untuk menelusuri asal-usul sering kali terhambat oleh keterbatasan arsip dan minimnya keterbukaan lembaga terkait.
Kasus ini kembali mencuat setelah Timor Leste merdeka pada 2002. Sejumlah organisasi hak asasi manusia dan aktivis kemanusiaan mulai mendorong pengungkapan kebenaran serta reunifikasi keluarga.
Beberapa mantan anak asuh yayasan di Jawa akhirnya berhasil menemukan keluarga kandungnya, meski banyak pula yang hingga kini masih hidup tanpa kepastian identitas.
Hilangnya identitas anak-anak Timor Leste ini menjadi salah satu potret pelanggaran hak anak dalam sejarah konflik kawasan.
Identitas bukan sekadar nama, melainkan hak dasar yang menentukan hubungan seseorang dengan keluarga, budaya, dan sejarahnya.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa dampak konflik bersenjata tidak hanya berhenti pada medan perang, tetapi juga menghantui kehidupan generasi yang tumbuh setelahnya.
Hingga kini, upaya pencarian kebenaran dan keadilan masih terus dilakukan oleh para penyintas dan keluarga korban.
Kisah anak-anak Timor Leste yang kehilangan identitas di Jawa menjadi luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, sekaligus panggilan moral agar perlindungan terhadap anak dalam situasi konflik tidak lagi diabaikan.

