Sekitarbandung.com – Lebaran merupakan tradisi yang muncul saat Nusantara mengalami peralihan dari Hindu ke Islam. Kata “lebaran” sendiri berarti “selesai”, yakni selesai dari menjalankan “upawasa” (puasa).
Maknanya adalah selesai menjalankan ibadah puasa. Beberapa ulama dahulu memilih pendekatan tradisi ini agar umat Hindu yang baru masuk Islam tidak merasa kaget dengan ajaran barunya.
Mengapa Makan Ketupat?
Tradisi ini muncul pada abad ke-15 dan dikenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai media dakwah melalui budaya. Kata “ketupat” diambil dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.
Ketupat dibungkus dengan anyaman janur yang melambangkan silaturahmi, lalu dibentuk segi empat sebagai simbol arah mata angin dengan satu pusat yang melambangkan Allah SWT.
Mengapa Makan Opor?
Masih berkaitan dengan ketupat, tradisi opor saat Lebaran juga dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga. Kata “opor” berasal dari “apura-ingapura” yang berarti saling memaafkan.
Hidangan ini terinspirasi dari kari India, namun disesuaikan dengan lidah masyarakat lokal. Dahulu, mengonsumsi ayam dianggap sebagai sesuatu yang mewah sehingga opor menjadi hidangan spesial.
Mengapa Bagi-bagi Angpau Lebaran?
Tradisi ini sudah ada sejak masa Mataram Islam pada sekitar abad ke-16 hingga ke-18. Raja dan bangsawan pada masa itu memberikan uang baru kepada anak-anak dan bawahan.
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk sedekah dan ungkapan syukur setelah menjalankan puasa selama sebulan. Tradisi ini kemudian berkembang hingga dikenal luas seperti sekarang.
Baca Juga: Beberapa Nomor Penting yang Wajib Dicatat Saat Mudik Lebaran Tahun 2026
Kalau THR Bagaimana?
Pada tahun 1951, Perdana Menteri Soekiman memberikan uang “persekot” kepada PNS menjelang Lebaran untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun, bentuknya masih berupa pinjaman yang harus dicicil pada bulan berikutnya.
Seiring waktu, kebijakan ini berkembang. Pada tahun 1954, pemerintah mengimbau perusahaan agar para buruh juga mendapatkan THR sebesar 1/12 dari gaji bulanan.
Mengapa Muncul Budaya Mudik?
Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Majapahit, ketika masyarakat dari hulu merantau ke hilir sungai. Istilah “mudik” sendiri mulai populer pada tahun 70-an.
Hal tersebut berkaitan dengan meningkatnya urbanisasi, di mana banyak orang dari desa merantau ke kota besar. Mudik kemudian dimaknai sebagai “mulih dilik” atau pulang sebentar.
Berburu Bakso Saat Lebaran
Menurut arsip sejarah, kebiasaan ini sudah ada sejak tahun 80-an. Setelah bersilaturahmi, banyak orang memilih makan bakso bersama keluarga.
Kebiasaan ini muncul karena rasa jenuh setelah mengonsumsi hidangan seperti opor. Akibatnya, orang cenderung mencari makanan yang lebih segar seperti bakso.
Tidur Siang Saat Lebaran
Fenomena ini masih menjadi misteri dan sering dianggap unik oleh banyak orang. Bahkan, ada anggapan bahwa tidur siang saat Lebaran terasa jauh lebih nikmat dibanding hari biasa.
Hal ini tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim, tetapi juga oleh nonmuslim. Banyak yang mengakui bahwa suasana Hari Raya Idulfitri membuat waktu istirahat terasa lebih nyaman dan menyenangkan.
Beragam tradisi Lebaran tersebut menunjukkan bahwa tentang bagaimana budaya dan nilai keagamaan saling berpadu dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Memahami asal-usulnya dapat membuat momen Lebaran terasa lebih bermakna, sekaligus memperkaya wawasan tentang sejarah dan kearifan lokal.
Baca Juga: Pembatasan Operasional Angkutan Barang Selama Arus Mudik dan Balik Angkutan Lebaran 2026

