Bandung Siap Ubah Sampah Jadi Arang! Ini Teknologi Barunya

sekitarbandung.com – Pemkot Bandung mewacanakan pengolahan sampah menggunakan teknologi Refused Derived Fuel (RDF) Carbonized, setelah ada peluang kerja sama dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Namun,

Acsyara Aulia

Bandung Siap Ubah Sampah Jadi Arang! Ini Teknologi Barunya

sekitarbandung.com – Pemkot Bandung mewacanakan pengolahan sampah menggunakan teknologi Refused Derived Fuel (RDF) Carbonized, setelah ada peluang kerja sama dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Namun, sebelum melakukan langkah tersebut, Pemkot Bandung diminta untuk memperhatikan sejumlah hal. Salah satunya, terkait dengan kelanjutan nasib Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang menjadi program Pemkot pada 13 tahun silam.

Pegiat Sosial Politik yang juga mantan Anggota DPRD Kota Bandung 2004-2014, Aat Safaat Hodijat mengatakan, wacana Pemkot Bandung untuk mengolah sampah dengan menggunakan teknologi berbasis ramah lingkungan terus bergulir ditengah bayang-bayang penutupan TPA Sarimukti tahun 2027.

Aat menyarankan agar Pemkot Bandung melilhat beberapa aspek sebelum menjalankan program terbarunya. Menurut Aat, Wali Kota dan DPRD Kota Bandung harus memastikan apakah proyek PLTSa dengan PT BRIL akan dilanjutkan atau tidak.

“Mengingat rentang waktu 13 tahun setelah PT BRIL dinyatakan sebagai pemenang lelang, telah mengalami berbagai perubahan dari mulai asumsi kurs, keadaan ekonomi makro dan teknologi. Ini harus diperhatikan oleh Wali Kota dan DPRD,” tutur Aat, Kamis, 7 Agustus 2025.

Ditambahkannya, jika ada teknologi terbaru yang bisa menekan biaya tipping fee dan lebih aman alias ramah lingkungan, maka bisa dijajaki terlebih dahulu. Sebab, amar putusan kasasi dari gugatan KPPU ke PT BRIL hanya berisi menolak tuduhan persengkongkolan dalam proses tendernya.

“Jadi hanya menghapus stigma tapi tidak ada amar putusan yang bersifat eksekutorial kepada Pemkot untuk melanjutkan proyek atau kontrak,” tambah Aat.

Lebih lanjut, Aat juga menilai perlunya upaya Pemkot Bandung untuk mencari alternatif pengolahan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan yang lebih ekonomis dan aman atau ramah lingkungan.

“Sifatnya yang darurat menghadapi penutupan TPA Sarimukti atau akan ikut menggunakan TPPAS Legok Nangka yang dipersiapkan oleh Pemprov Jabar? Ini harus jadi pemikiran juga,” tuturnya.

Agar bisa mengatasi ke daruratan, tambah Aat, bisa saja untuk efisiensi waktu bisa meminta persetujuan Presiden jika Pemkot Bandung akan membangun tempat pengolahan sampah sendiri tanpa melakukan proses lelang dengan memenuhi syarat yang ditentukan peraturan perundang-undangan.

Ia berharap langkah-langkah tersebut bisa dilakukan oleh Pemkot Bandung dan DPRD sehingga ke depan pengelolaan sampah bisa dijalankan dengan baik.

Sampah padat menjadi arang

Seperti diketahui sebelumnya, saat ini, Kota Bandung sudah mengolah sekitar 400 ton sampah per hari dari total produksi harian 1.500 ton.

Pemkot Bandung pun berencana membangun tempat pengolahan sampah bersama dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk di Gedebage.

Adapun rencana kerja sama ini ditargetkan mampu mengolah minimal 700 ton sampah per hari, sehingga pengolahan menjadi lebih maksimal dan efisien.

“Kalau kita sudah bisa mengolah sendiri, mengapa harus buang ke TPA Satimukti? Apalagi nanti bakal ada Legok Nangka. Hitungan tipping fee yang kami bayarkan masuk akal. Apalagi ini pakai teknologi RDF, yang aman dan punya nilai ekonomi,” tutur Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, baru-baru ini.

Erwin mengungkapkan, skema kerja sama ini, Pemkot Bandung hanya menyediakan lahan serta membayar tipping fee sebesar Rp 350 ribu per ton. Anggaran tipping fee ini juga sudah masuk dalam Perubahan APBD tahun 2025.

Lokasi yang disiapkan berada di wilayah Gedebage, di atas lahan seluas 1,5 hektare. Lokasi itu sebelumnya bakal digunakan untuk proyek bersama Kementerian PU.

“Secara prinsip, PT Adhi Karya menyatakan siap. Kami optimistis karena perusahaan ini BUMN profesional. Kami juga yakini wilayah Gedebage aman dari penolakan masyarakat karena lahannya memang sudah siap bangun, tanpa polusi dan gangguan lainnya,” kata Erwin.

Sementara itu, Project Manager Unit Operasi Bisnis Lingkungan, PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, Anggara Satria Perdana Putra menjelaskan, teknologi yang digunakan adalah hasil inovasi lokal.

Baca juga : Mesin AI Qinglv Bisa Pilah 100 Ton Sampah Sehari

“Teknologi ini menggunakan alat penghasil panas efisien untuk mengubah sampah padat menjadi arang sampah atau RDF carbonized. Ini bisa menggantikan batu bara di boiler industri. Di Bandung banyak pabrik tekstil yang sebelumnya pakai batu bara, nanti bisa beralih ke bahan bakar hijau dari sampah,” jelas Anggara.

Jika berjalan lancar, pembangunan instalasi pengolahan sampah ini ditargetkan selesai dalam waktu 6–8 bulan ke depan.

Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar