Banjir dan Longsor Lembang, Walhi: Ini Bukan Sekadar Bencana

sekitarbandung.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat menilai, banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Lembang dan wilayah lain di Kabupaten Bandung Barat belakangan

Acsyara Aulia

Banjir dan Longsor Lembang, Walhi: Ini Bukan Sekadar Bencana

sekitarbandung.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat menilai, banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Lembang dan wilayah lain di Kabupaten Bandung Barat belakangan ini bukan hanya sebuah bencana alam biasa. Rangkaian peristiwa itu ­memperlihatkan adanya bencana hidrometeorologis yang bukan lagi kejadian insidental melainkan cerminan krisis ekologis.

Krisis tersebut terus diperparah kebijakan pembangun­an yang abai terhadap nilai-nilai lingkungan. Walhi menegaskan kembali kawasan cekungan Bandung kini berada dalam kondisi darurat bencana ekologis.

Abi dari Tim Desk Disaster Walhi Jabar mengatakan, peristiwa mulai dari banjir dan longsor yang terjadi di Lembang dan sekitarnya beberapa hari ke belakang men­jadi cerminan buruk wajah cekungan Bandung saat ini. Rangkaian bencana ekologis yang terus muncul menunjukkan ada ke­keliruan dan kerusakan sis­tem ekologis yang terstruktur dan teramat parah.

Hal itu mulai dari salah urus tata ruang, masifnya alih fungsi lahan, serta lemahnya pengawasan terhadap daya dukung lingkungan hidup yang ada.

Walhi memandang akar per­soalan dari bencana- bencana tersebut bukan semata akibat curah hujan yang tinggi, melainkan karena rusak­nya sistem ekologi akibat kebijakan ruang yang tidak ber­pihak dan tidak memperha­tikan nilai–nilai lingkung­an hidup.

Pemerintah kabupaten mau­pun provinsi dinilai te­rus mengizinkan pembangunan di wilayah rawan bencana dengan dalih pertumbuhan ekonomi dan pariwisata. Walhi mencatat, ba­nyak wilayah di Lembang yang terhitung secara geologis sebagai wilayah rentan kini dipadati bangunan dan villa tanpa memperhatikan resiko bencana.

“Yang kita lihat hari ini adalah gaya kepemimpinan dari seorang Gubernur Jawa Barat yang gemar menampilkan diri seolah peduli, tapi abai pada inti persoalan. Kamera dan konten tidak akan menyerap air hujan, tidak akan menghentikan longsor, dan tidak akan menyelamat­kan warga yang rumahnya teng­gelam,” ujar Abi dalam keterangannya, Sabtu 25 Oktober 2025.

Rakyat, katanya, tidak butuh konten, yang dibutuhkan adalah keberanian politik untuk menghentikan eksploitasi ruang dan me­mulihkan ekosistem. Walhi me­negaskan, cekungan Bandung telah melewati batas aman ekologis. Pemprov Jabar bersama pemerintah kota dan kabupaten sekitarnya harus segara menetapkan kawasan itu sebagai zona darurat ekologis.

Walhi juga menuntut agar dilakukan audit tata ruang secara menyeluruh di wilayah cekungan Bandung, terutama di kawasan hulu seperti Lembang, Parongpong, dan Cisarua. Audit harus terbuka untuk publik dan disertai langkah nyata menghentikan pembangunan baru, me­negakkan hukum terha­dap pelanggaran izin lingkungan, serta memulihkan kem­bali kawasan lindung dan daerah tangkapan air.

Longsor

Sementara itu sebanyak 14 keluarga terpaksa mengungsi setelah longsor melanda wilayah Kampung Gintung, RT 4 RW 7, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Rumah-rumah warga itu berada di ba­wah tebing bukit yang longsor pada Jumat 24 Oktober 2025.

Beruntung, material longsor tak sampai menimbun kediaman warga. Hanya sa­wah yang berada di atas dan bawah bukit rusak setelah terseret dan tertimbun guguran tanah tersebut.

Warga mengalami trauma dan ketakutan selepas kejadian. “Soak we, trauma (Jadi takut dan trauma),” kata Adar (60), warga Gintung kepada “PR” yang menyambangi kediamannya, Minggu 26 Oktober 2025.

Jika tak hujan, warga kembali ke rumah masing-masing. Rumah Adar menjadi sa­lah satu rumah yang paling de­kat dengan area longsor. Kala “PR” menyambangi ru­mahnya, Adar dan keluarganya mulai risau lantaran cuaca yang mulai mendung dengan petir terdengar.

Menurutnya, peristiwa itu bukan kali pertama terjadi di Gintung. Pada 2024, longsor terjadi di beberapa titik, salah satunya bahkan membuat 10 warga hilang. Dari jumlah itu, 8 orang ditemukan tewas, 2 orang lainnya belum ditemukan hing­ga kini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah KBB Asep Sehabudin menyatakan, longsor berjarak sekitar 20 meter dari permukiman warga dan berjarak 200 meter dari lokasi longsor 2024. Laporan Pemerintah Kecamatan Cipongkor menyebut jumlah war­ga yang mengungsi mencapai 10 keluarga dan yang terancam 20 keluarga.

Baca juga : Alfeandra Dewangga Resmi Debut Bersama Persib!

Selain longsor, satu rumah roboh di Desa Cimerang, Ke­cam­atan Padalarang. Sementara di Kampung Sindang­sari, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, longsor menggerus jalan sebuah perumahan. “Kemarin sudah diassesment ke lokasi,” kata Camat Padalarang Agus Achmad Setiawan saat dihu­bungi, Minggu sore.

Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar