Sekitarbandung.com – Rentetan bencana yang melanda wilayah Sumatera dalam beberapa waktu terakhir menjadi peringatan serius bagi Jawa Barat.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi masih sangat tinggi di berbagai daerah, termasuk Jabar yang memiliki karakter geografis serupa.
Kondisi geografis yang memiliki kemiripan, terutama dari sisi topografi dan curah hujan yang tinggi, membuat potensi ancaman bencana di Jabar tidak bisa dianggap sepele.
Situasi ini menjadi pengingat penting agar pemerintah daerah dan masyarakat semakin meningkatkan kewaspadaan.
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Ali Mulku Engkun, menegaskan bahwa rangkaian bencana yang terjadi saat ini merupakan bagian dari fenomena siklon tropis serta perubahan cuaca ekstrem.
Menurutnya, pola cuaca yang tidak stabil dapat memicu hujan lebat hingga kondisi ekstrem lain yang juga berpotensi terjadi di wilayah Jawa Barat.
Hal ini sejalan dengan data BMKG, di mana Jawa Barat diprediksi menghadapi dua puncak musim hujan. Puncak pertama diperkirakan berlangsung pada Desember 2025, sementara puncak kedua terjadi pada Februari hingga Maret 2026.
Kondisi ini membuat risiko bencana seperti banjir, longsor, hingga angin kencang semakin meningkat.
Baca Juga: Korban Bencana Sumatera 2025 Tembus 442 Meninggal dan 402 Hilang, Data Terbaru 30 November
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jabar telah menetapkan status siaga darurat bencana sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
Langkah ini diambil untuk memastikan semua pihak dapat bergerak lebih cepat dan terkoordinasi jika terjadi kondisi darurat.
Oleh karena itu, Gubernur KDM memberikan sejumlah instruksi penting, di antaranya:
- Siap siaga terhadap bencana di seluruh daerah.
- BPBD diminta melakukan apel kesiapsiagaan.
- Menggelar rapat teknis bersama BPBD di 27 kabupaten/kota untuk membahas langkah-langkah teknis jika bencana terjadi.
- Penguatan langkah teknis tanggap darurat di semua lini.
Melalui unggahan akun Instagram @humas_jabar pada Rabu (3/11/2025), Pemprov Jawa Barat juga mengajak masyarakat untuk melakukan mitigasi risiko bencana alam. Beberapa langkah sederhana namun penting yang perlu diperhatikan antara lain:
- Waspada menghadapi hujan dengan intensitas tinggi.
- Tidak membuang sampah sembarangan agar tidak menimbulkan sumbatan yang berpotensi menyebabkan banjir.
- Bagi masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan, lebih peka terhadap tanda-tanda awal pergerakan tanah.
- Menjaga kelestarian lingkungan dan mengembalikan fungsi alam sebagaimana mestinya.
Baca Juga: Bantuan Darurat Sumatera: A400 dan Hercules Gerak Cepat Kirim Logistik ke Sumbar, Tapanuli, dan Aceh

