Sekitarbandung.com – Di India, klakson berfungsi sebagai penanda posisi. Alih-alih melihat spion, bunyi bising di sana seperti berbicara, “aku di sebelahmu ya, jangan asal berbelok!”
Sementara itu, di Indonesia, keseringan membunyikan klakson bisa membuat orang emosi hingga berujung pada baku hantam.
Tetapi karena kondisi jalanan di India sangat sempit dan padat, spion kiri dan kanan sering kali tidak efektif untuk memantau blind spot.
Akibat keterbatasan visual inilah, mereka otomatis lebih mengandalkan indera pendengaran.
Bahkan pejalan kaki di sana justru merasa tidak aman jika jalanannya sepi, karena suara klakson merupakan satu-satunya tanda ada kendaraan di dekat mereka.
Kode Ketukan Para Sopir
Para sopir refleks menggunakan kode ketukan. Jika bunyinya pendek dua kali (tid-tid), artinya “permisi, aku menumpang lewat”. Jika panjang, itu merupakan tanda darurat.
Inilah mengapa seberisik apa pun jalanannya, mereka sangat jarang mengalami road rage karena suara tersebut dianggap sebagai informasi navigasi, bukan makian.
Baca Juga: Piala Dunia Menyimpan Fakta Menarik yang Mungkin Belum Kamu Ketahui
Kebiasaan ini membuat pabrikan mobil mengembangkan teknologinya. Klakson standar Eropa atau Indonesia akan langsung jebol dalam hitungan minggu jika digunakan di India.
Hal tersebut dikarenakan frekuensi penggunaan klakson dalam beberapa hari di sana setara dengan pemakaian setahun penuh di Jerman.
Klakson Khusus India
Agar tidak tekor garansi, pabrikan mobil raksasa seperti Audi terpaksa membuat klakson khusus untuk pasar India yang lima kali lipat lebih tangguh.
Kultur ini berbeda dengan Indonesia, yang menganggap jalanan tenang sebagai tanda ketertiban. Namun di India, jalanan yang berisik justru menjadi cara mereka menjaga diri dari kekacauan.
Suara klakson dari segala penjuru itu bukan tanda permusuhan, melainkan bukti bahwa semua orang di jalanan sedang bersama-sama waspada dan melek demi menghindari benturan.
Baca Juga: Kasus Pencurian Trofi Piala Dunia, Diselamatkan oleh Seekor Anjing!

