sekitarbandung.com – Kabupaten Bandung Barat (KBB) merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di hampir seluruh kecamatan. Untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB mendorong setiap desa membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai garda terdepan dalam menghadapi situasi darurat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD KBB, Dedi Supriadi, mengatakan pembentukan Destana di tiap desa menjadi kebutuhan mendesak agar penanganan bencana bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.
“Kabupaten Bandung Barat merupakan daerah rawan bencana di semua wilayahnya. Karena itu, penting bagi setiap desa untuk mandiri dalam kebencanaan. Destana bisa menjadi wadah bagi relawan dan masyarakat agar mampu merespons cepat ketika terjadi bencana,” ujarnya di Lembang, Senin, 10 November 2025.
Desa Didorong Mandiri Hadapi Bencana
Dedi menegaskan, keberadaan Destana bukan berarti BPBD dapat absen dalam penanganan bencana. Namun, dengan kesiapan masyarakat di tingkat desa, proses evakuasi dan tanggap darurat dapat dilakukan lebih cepat sebelum bantuan utama tiba di lokasi.
“Minimal, desa bisa menjadi pihak pertama yang bergerak. Harapannya, setiap desa memiliki sarana, prasarana, dan tim tanggap yang siap turun di lapangan,” katanya.
Menurut Dedi, hingga saat ini baru 72 desa dari total 165 desa di Bandung Barat yang memiliki Destana aktif. Padahal, kondisi geografis KBB yang terdiri dari pegunungan, perbukitan, dan lembah membuat sebagian besar wilayah rawan terhadap longsor, banjir, angin kencang, serta kebakaran hutan dan lahan.
Peran Destana dalam Mitigasi dan Edukasi Warga
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa keberadaan Destana memungkinkan pemerintah desa melakukan mitigasi dini, seperti memetakan wilayah rawan, menyiapkan jalur evakuasi, serta mengadakan pelatihan dasar kebencanaan bagi warga.
“Kami terus mendorong agar desa-desa lain membentuk Destana, termasuk melalui pelatihan dan pendampingan langsung dari BPBD,” ujarnya.
Selain pelatihan, BPBD juga memberikan dukungan berupa pemetaan risiko bencana dan sarana komunikasi darurat untuk mempercepat koordinasi antara aparat desa dan petugas penanggulangan di tingkat kabupaten.
Membangun Budaya Sadar Bencana
Kepala Pelaksana BPBD KBB, Asep Sihabudin, menegaskan bahwa kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana menjadi faktor kunci dalam mitigasi.
“Semua pihak harus memahami langkah-langkah mitigasi. Paling penting adalah sadar bencana, artinya masyarakat tahu apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi,” katanya.
Menurut Asep, membangun kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kolaborasi antara lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan kelompok relawan.
“Pengetahuan dan pelatihan kebencanaan harus menjadi bagian dari budaya masyarakat di daerah rawan bencana. Kalau semua pihak siap, risiko bencana bisa ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.
Baca juga : Krisis Sampah Bandung, 43 Truk Tertahan di TPA Sarimukti
Target 100 Persen Destana Aktif pada 2027
Sebagai bagian dari rencana jangka menengah, BPBD KBB menargetkan seluruh desa di wilayahnya memiliki Destana aktif pada tahun 2027. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan relawan, serta penyediaan peralatan tanggap darurat berbasis komunitas.
Dengan adanya Destana di setiap desa, diharapkan penanganan bencana di KBB dapat berlangsung lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi, sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai ujung tombak dalam menghadapi risiko bencana.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

