Mr. Assaat Datuk Mudo Rela Serahkan Jabatan Demi Negara, tetapi Malah Berakhir Jadi Buronan dan Dipenjara oleh Rezim Soekarno

Sekitarbandung.com – Kalau ditanya siapa Presiden RI setelah Soekarno, pasti semua menjawab Soeharto. Tetapi Mr. Assaat Datuk Mudo pernah menduduki kursi Presiden RI di masa-masa

Dicky Wicaksono

Mr. Assaat Datuk Mudo Rela Serahkan Jabatan Demi Negara, tetapi Malah Berakhir Jadi Buronan dan Dipenjara oleh Rezim Soekarno
Mr. Assaat Datuk Mudo Rela Serahkan Jabatan Demi Negara, tetapi Malah Berakhir Jadi Buronan dan Dipenjara oleh Rezim Soekarno

Sekitarbandung.com – Kalau ditanya siapa Presiden RI setelah Soekarno, pasti semua menjawab Soeharto. Tetapi Mr. Assaat Datuk Mudo pernah menduduki kursi Presiden RI di masa-masa paling kritis.

Belanda memaksa Indonesia menjadi negara serikat (RIS) pada tahun 1949. Soekarno naik menjadi Presiden RIS. Namun, agar status Republik Indonesia tidak hilang dan tetap ada yang memimpin, Mr. Assaat diangkat menggantikan posisi tersebut.

Ia diangkat menjadi Acting (Pejabat) Presiden Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta. Tanpanya, nama RI bisa tamat saat itu juga.

Sikapnya sangat rendah hati. Ketika banyak pejabat gila jabatan, Mr. Assaat justru menolak keras dipanggil “Paduka Yang Mulia”. Baginya, sebutan itu terlalu feodal.

Ia meminta staf dan rakyat cukup memanggilnya “Bung Presiden” atau “Saudara Acting Presiden”. Di masa jabatannya ini pula, ia menandatangani pendirian kampus Universitas Gajah Mada (UGM).

Pada Agustus 1950, bentuk negara kembali menjadi NKRI. Kalau ia haus kekuasaan, ia bisa saja melawan. Tetapi apa yang terjadi?

Baca Juga: Sultan Hamid II Gambar Lambang Negara Indonesia, tetapi Malah Berakhir Dipenjara dan Namanya Dihapus dari Sejarah

Mr. Assaat dengan sangat legawa dan ikhlas mengembalikan jabatan Presiden RI kepada Soekarno. Ia rela mundur menjadi rakyat dan menteri biasa demi keutuhan bangsa.

Ironi tragis dimulai di era Demokrasi Terpimpin. Mr. Assaat dengan berani menentang kebijakan Soekarno yang dianggap mulai otoriter dan terlalu condong memberi angin pada PKI.

Karena sikap kritisnya ini, ia merasa terancam, diawasi intelijen, hingga akhirnya terpaksa kabur dari Jakarta menuju Sumatera.

Di Sumatera, ia bergabung dengan PRRI dan menjadi buruan tentara pusat. Mantan Presiden ini terpaksa bergerilya di hutan meski fisiknya sakit-sakitan.

Ironisnya, ia ditangkap dan dipenjara pada tahun 1962-1966 oleh pemerintah yang dahulu ia selamatkan.

Mr. Assaat baru dibebaskan setelah Orde Baru berkuasa dan mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 1976 dalam kesunyian.

Ia adalah saksi bisu betapa kejamnya panggung politik, di mana seorang penyelamat negara bisa berakhir menjadi tahanan di negaranya sendiri.

Bagaimana menurutmu, perlukah namanya dimasukkan ke deretan Presiden resmi di buku sekolah?

Baca Juga: Meski Paru-paru Tinggal Satu, Napas Perjuangan Raden Soedirman Berhasil Selamatkan Nyawa Republik

Related Post

Tinggalkan komentar