sekitarbandung.com – Sebuah fakta mencemaskan terungkap. Indonesia kini berada di peringkat ketiga dunia sebagai negara darurat fatherless atau krisis ketiadaan peran ayah dalam keluarga. Ironisnya, Kota Bandung berpotensi menjadi salah satu penyumbang terbesar fenomena ini. Hal ini dipicu oleh angka perceraian tahunan yang menembus lebih dari 7.000 kasus.
Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam acara yang digelar Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandung yang digelar di Taman Dewi Sartika di Balai Kota Bandung pada Kamis 2 Oktober 2025.
Kepala DPPKB Kota Bandung Anhar Hadian, tidak menampik bahwa ancaman ini nyata dan dampaknya pun sudah terasa. Mayoritas dari ribuan kasus perceraian itu, katanya, melibatkan pasangan usia muda.
“Potensi anak-anak tumbuh tanpa kehadiran ayah sangat besar, dan ini harus menjadi alarm bagi kita semua,” ujar Anhar dengan nada serius.
Fenomena ini pun kata dia, bisa saja terjadi di lingkungan terdekat kita. Baik itu di tingkat RT, RW, bahkan di kantor. Ini bukan lagi masalah individu, tapi masalah sosial yang harus kita hadapi bersama.
Menurut data dari UNICEF pada tahun 2021, sekitar 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah.
Hal ini didukung data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2021, yang menyatakan dari jumlah anak usia dini di Indonesia yang mencapai 30,83 juta jiwa, sekitar 2,67% atau 826.875 anak tidak tinggal bersama ayah dan ibu kandung, sementara 7,04% atau 2.170.702 anak hanya tinggal bersama ibu kandung.
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ada sekitar 2.999.577 anak usia dini di Indonesia tidak tinggal bersama dengan ayahnya dan telah kehilangan sosok ayah.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Desember 2024, Jawa Barat berada di urutan kedua nasional dengan jumlah 33.260 kasus perceraian.
Sementara data dari Pengadilan Agama Bandung, hingga 26 Agustus 2025, menunjukkan ada sebanyak 5.248 perkara perceraian yang telah terdaftar, dengan 5.180 kasus di antaranya telah diputus.
Kehadiran utuh
Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menyerukan sebuah pesan kuat kepada para ayah di Kota Bandung. Menurutnya, menjadi ayah bukan sekadar status, melainkan sebuah kehadiran yang utuh.
”Seorang anak butuh kasih sayang ibu, tapi mereka juga memiliki kebutuhan akan arahan, keteladanan, dan perlindungan dari seorang ayah,” kata Erwin.
Oleh karena itu, kata Erwin, ayah tidak boleh hanya hadir secara fisik, tapi juga butuh kehadiran jiwanya, emosinya, dan spiritualnya yang juga harus menyatu dengan keluarga. Seperti diketahui, kini ada fenomena latte dad ketika ayah berperan banyak dalam mendidik anak dan banyak menghabiskan waktu bersama anak.
Erwin juga menegaskan, Pemerintah Kota Bandung tidak akan tinggal diam menyikapi kondisi ini. Ia pun berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan dan juga program yang memperkuat fondasi keluarga.
Baca juga : Masalah Sampah Bandung: Pemilahan vs Insinerator
“Keluarga yang kuat adalah benteng terakhir kita. Dari sanalah akan lahir generasi penerus yang tangguh dan tidak mudah goyah,” katanya.
Acara bertajuk “Workshop Edukasi Pola Asuh” ini sendiri diikuti oleh 120 peserta dari berbagai perangkat daerah dan kecamatan, yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan untuk menyebarkan kesadaran akan pentingnya peran ayah di lingkungannya masing-masing.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

