Dedi Mulyadi Geber Modernisasi KA Jakarta–Bandung

sekitarbandung.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi baru saja menggebrak dengan visi ambisius soal transportasi: modernisasi jalur KA Jakarta-Bandung yang bisa potong waktu perjalanan dari tiga

Acsyara Aulia

Dedi Mulyadi Geber Modernisasi KA Jakarta–Bandung

sekitarbandung.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi baru saja menggebrak dengan visi ambisius soal transportasi: modernisasi jalur KA Jakarta-Bandung yang bisa potong waktu perjalanan dari tiga jam lebih jadi hanya 1,5 jam. Bayangkan, pagi berangkat dari Gambir, siang sudah bisa nongkrong di Braga sambil nikmati kopi susu Bandung—semua dengan tiket yang ramah kantong, sekitar Rp150-300 ribu. Ini bukan mimpi kosong, tapi hasil obrolan serius dengan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin, yang menjanjikan kereta selalu penuh sesak karena harga kompetitif dibanding tol atau Whoosh.

Proyek ini, menurut Dedi, bukan cuma soal cepat-cepatan, tapi strategi jitu buat kuatkan konektivitas antarwilayah dan geber roda ekonomi Jabar, terutama di tengah musim hujan yang sering bikin macet parah di jalur darat.

Visi Dedi Mulyadi: Dari 3 Jam Jadi 1,5 Jam, Tiket Terjangkau untuk Semua Kalangan

Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan gaya blak-blakan dan dekat dengan rakyat, tak ragu bilang kalau modernisasi ini bakal bikin KA Parahyangan jadi primadona. “Kalau jalur kereta Jakarta–Bandung dimodernisasi, perjalanannya bisa ditempuh hanya dalam satu setengah jam. Tiket sekitar 150 sampai 300 ribu rupiah, saya yakin kereta akan selalu penuh,” ujarnya dalam rilis resmi yang diterima media pada Minggu (9/11/2025). Saat ini, perjalanan KA konvensional memang sudah sekitar dua jam, tapi dengan upgrade, angka 1,5 jam jadi target realistis yang bisa saingi kereta cepat.

Obrolan ini lahir dari pertemuan di Gedung Sate awal November, di mana Dedi dan Bobby saling tukar ide buat bikin transportasi lebih humanis. Dedi, yang sering turun langsung ke lapangan, paham betul keluhan warga: macet di tol Cipularang yang bikin stres, atau biaya Whoosh yang kadang bikin kantong kering. Dengan tiket di kisaran itu, KA bisa jadi pilihan utama buat pekerja komuter Jakarta-Bandung, mahasiswa, atau keluarga yang pengen liburan akhir pekan tanpa ribet. Ia bahkan proyeksikan okupansi 100%, karena Bandung tetap magnet wisata: dari factory outlet sampe kuliner angkringan yang bikin nagih.

Lebih jauh, Dedi tekankan ini bagian dari komitmennya buat Jabar yang lebih merata. “Ini bukan cuma infrastruktur, tapi jembatan ekonomi,” katanya. Bayangin, jutaan orang Jakarta yang tiap akhir pekan ‘kabur’ ke Lembang atau Ciwidey, kini bisa lebih mudah—tanpa tambah emisi karbon dari mobil pribadi. Visi ini sejalan dengan programnya sejak dilantik, di mana transportasi jadi kunci buat dorong pertumbuhan 5,2% di Jabar tahun ini, lewat lima jurus rahasia yang ia bocorkan: dari digitalisasi UMKM sampe kolaborasi pusat-daerah.

Teknologi Tilting dan Optimalisasi Jalur: Biaya Rp8 Triliun Tanpa Bangun Rel Baru

Bobby Rasyidin, sebagai ujung tombak KAI, jelas-jelas bilang modernisasi ini nggak butuh rel baru yang mahal meriah. “Dengan jalur eksisting sepanjang sekitar 150 kilometer, estimasi biaya perbaikan sekitar 8 triliun rupiah,” ungkapnya, merinci investasi yang mencakup upgrade rel, healing tikungan, dan penataan kemiringan jalur. Kunci utamanya? Teknologi tilting pada bogie kereta—semacam suspensi pintar yang bikin rangkaian bisa ‘miring’ mengikuti kurva tanpa kurangi kecepatan, aman dan stabil meski lintasan Jabar yang banyak tanjakan.

Prosesnya bakal presisi: perbaiki rel yang aus di titik rawan seperti Purwakarta-Padalarang, tambah terowongan dan jembatan baru di spot kritis, plus sempurnakan double track buat hindari tabrakan jadwal. Ini mirip upgrade KA di Eropa, tapi disesuaikan kondisi lokal—nggak ada bongkar total, cuma polesan canggih biar kereta bisa ngebut 120-160 km/jam. Biaya Rp8 triliun itu, kata Bobby, worth it karena ROI cepat: lebih banyak penumpang berarti pendapatan tiket naik, plus hemat subsidi pemerintah.

Dedi tambah semangat dengan ide kereta khusus petani-pedagang, yang bisa angkut hasil bumi dari Cianjur atau Sukabumi langsung ke Jakarta tanpa repot truk. “Kita sediakan empat kereta untuk Jabar, jalurnya dari Cianjur, Bogor, Tasik, Sukabumi, sampai Bandung,” tambahnya. Ini nggak cuma percepat logistik, tapi tekan biaya angkut yang sering bikin petani rugi—misalnya, sayur dari Garut bisa sampe Pasar Minggu dalam hitungan jam, segar dan murah. Teknologi ini juga ramah lingkungan, kurangi kemacetan tol yang bikin polusi naik 20% di musim libur.

Kolaborasi Multi-Level: Libatkan Warga, Bisnis, dan Pusat untuk Sukses Proyek

Yang bikin proyek ini beda, Dedi desak kolaborasi total: dari pusat, provinsi, kota/kab, sampe swasta dan warga. “Kita bisa ajak Pemkot Bandung, para pembisnis hotel untuk investasi. Karena orang Jakarta banyak yang berwisata ke Bandung, ini akan punya implikasi terhadap tingkat kunjungan wisata,” tuturnya. Bayangin, hotel di Dago atau Lembang tambah ramai, UMKM makanan ringan Bandung bisa ekspor via KA, dan wisatawan naik 30% gara-gara akses mudah.

Ide gila Dedi: saham warga Jabar! “Bisa kita buat saham warga Jabar, nanti warga Jabar punya kereta yang diproduksi di dalam negeri, punya kualitas menggunakan tenaga dalam negeri,” serunya. Ini mirip model koperasi modern, di mana warga bisa beli saham kecil buat ikut untung dari operasional KA—mungkin dividen tahunan atau diskon tiket. Kolaborasi ini juga libatkan Kementerian Perhubungan buat dana tambahan, plus CSR dari perusahaan besar kayak Telkom atau Unilever yang punya pabrik di Jabar.

Dari sisi masyarakat, Dedi ajak partisipasi aktif: survei warga via app Pemprov buat titik prioritas, atau pelatihan keretaker lokal biar job creation naik. Ini sejalan dengan gerakan ekonomi berbasis warga yang ia gagas, di mana pariwisata Bandung nggak cuma soal Trans Studio, tapi juga desa wisata di Priangan yang butuh akses KA buat berkembang. Tantangannya? Koordinasi lintas daerah, tapi Dedi yakin, dengan track recordnya bangun jalan provinsi yang lebih lebar, proyek ini bisa jalan mulus.

Dari Logistik Petani Sampai Boom Wisata Selatan Jabar

Modernisasi ini diprediksi geber ekonomi Jabar secara masif. Saat ini, KA Jakarta-Bandung angkut 2 juta penumpang setahun, tapi dengan 1,5 jam, bisa naik dua kali lipat—artinya Rp500 miliar lebih pendapatan tiket tahunan. Buat pariwisata, Bandung yang kunjungan 10 juta wisatawan pre-pandemi bakal rebound lebih cepat: weekend getaway dari Jakarta jadi lebih murah daripada naik mobil, kurangi kemacetan tol 15%. Dedi proyeksikan, hotel occupancy naik 20%, UMKM souvenir dan kuliner untung besar.

Lebih luas, ini dorong pemerataan: selatan Jabar seperti Pangandaran, yang rencana jalur lanjutan Rp8 triliun via Bandung-Banjar, bisa akses wisatawan lebih mudah. “Dari Jakarta ke Bandung 1,5 jam, ke Banjar 2 jam, total tiga jam ke Pangandaran,” kata Dedi. Ini buka peluang baru: pantai Pangandaran yang ‘Hawaii-nya Indonesia’ nggak lagi 7-10 jam darat, tapi KA nyaman dengan view pegunungan. Ekonomi lokal naik, dari nelayan Pangandaran sampe petani teh di Tasik, karena logistik murah via kereta khusus.

Baca juga : Thom Haye Emosional Usai Persib Kalahkan Selangor FC

Tapi, Dedi ingatkan, sukses tergantung gotong royong. “Ini implikasi besar buat wisata dan investasi,” tegasnya. Dengan ekonomi Jabar tumbuh 5,2% tahun ini, proyek ini bisa jadi pendorong utama Q4 2025—apalagi kalau kolab dengan event seperti Synchronize Fest atau Bandung Lautan Jazz. Intinya, modernisasi KA ini nggak cuma bikin perjalanan cepat, tapi bikin Jabar lebih hidup, lebih sejahtera, dan lebih terhubung.

Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar